Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Wayang Topeng Jatiduwur Jombang (2), Topeng Ini Tak Boleh Ditinggal Setiap Pertunjukkan

Achmad RW • Selasa, 28 November 2023 | 13:00 WIB
Sulastri Widianti menunjukkan topeng Klono
Sulastri Widianti menunjukkan topeng Klono

JombangBanget.id - Wayang Topeng Jatiduwur Jombang selama ini lebih banyak menceritakan Panji.

Disetiap pertunjukkan memiliki struktur yang khas. Gerak tari, cerita panji, hingga lakon-lakon komedi tersaji lengkap dalam kesenian yang dulu lebih dikenal sebagai Topeng Genthontong ini.

Istilah Genthontong sendiri sebenarnya merujuk pada suara musik yang mengiringi Tari Klono di awal pertunjukan.

“Memang kan musiknya itu genthontong tong genthonthong gitu, terus selama tarian, makanya penyebutannya dulu topeng genthontong,” kata Ketua Wayang Purwo Budoyo Jatiduwur, Jombang, Sulastri Widianti.

Pertunjukan ini biasanya akan dimulai setelah pukul 21.00 malam dan berakhir pukul 24.00.

Struktur pertunjukan diawali dengan tari klono, tari bapang, lalu masuk ke cerita yang dibawakan hingga berakhir dengan ritual nadzar sesuai keinginan si empunya hajat.

Sedangkan dalam seluruh permainan, penari yang memakai topeng di panggung hanya akan melakukan gerakan saja dengan cerita yang dibawakan langsung sang dalang, laiaknya wayang pada umumnya.

Di struktur cerita, wayang topeng yang berasal dari Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben Jombang ini lebih fokus pada cerita-cerita panji.

Yakni kisah yang berhubungan erat dengan kerajaan Kadiri, menceritakan kisah panji yang mencari pasangan.

Meski didalamnya perkembangan selalu dilakukan agar cerita tidak membosankan.

“Secara umum, ini bentuk seni teater dan tari yang digabungkan, namun berlaku seperti wayang,” ucap Heru Cahyono, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jombang.

Tak ketinggalan watak humor. Jika di wayang Jateng dan Jatim lebih dikenal sebagai punokawan, di wayang topeng ini ada dua karakter yang biasa berperan lawakan di sela cerita.

Keduanya Bancak dan Doyok. “Bancak Doyok itu dua karakter topeng yang dibuat lucu. Keduanya pengasuh tokoh pangeran seperti Ponokawan di wayang Jateng,” lanjutnya.

Untuk musik, wayang topeng Jatiduwur menggunakan sistem gamelan lengkap seperti wayang pada umumnya. Sehingga musik yang disajikan kini beragam.

Namun di masa awalnya dulu, wayang topeng lebih menggunakan alat musik tradisional.

“Sekarang sudah ada beberapa yang modern, kalau dulu cuma gong guci, saron, kendang saja, maka bunyinya gentontong itu tadi,” sahut Lastri kembali.

Dari 33 topeng, yang paling menonjol tentu topeng Klono. Topeng ini pemain utama dalam pertunjukan meski letaknya berada di awal.

Lastri dan keluarga meyakini permainan tari topeng Klono ini bertujuan selain hiburan, proses pemagaran gaib hingga ritual yang tak boleh ditinggalkan. 

“Kalau tari lain mungkin sudah ada yang berubah, misalnya tari bapang yang sekarang diganti dengan tari lain, tapi yang kelono itu tidak boleh diganti atau ditinggalkan, karena itu peran utama, dan dia juga perwujudan Ki Purwo,” pungkas Lastri. (riz/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#Wayang Topeng jatiduwur #cerita panji #Jombang