JombangBanget.id -Wayang Topeng Jatiduwur menjadi salah satu dari banyaknya kesenian yang orisinil dan bertahan di Jombang.
Kesenian wayang berasal dari Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang ini memiliki ciri khas dagu yang lancip disertai ornamen bergambar.
Bagi seluruh masyarakat Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang, ada nama penggagas dan meprakarsai wayang topeng itu. Yakni Ki Purwo.
Beberapa warga menganggap Ki Purwo sebagai sesepuh desa karena sakti dan mampu membuat topeng hingga meramu pertunjukan wayang topeng.
Tak ada tanggal jelas dimana dan kapan Ki Purwo lahir.
Berdasarkan cerita dari keluarganya, ia penduduk asli Kabupaten Gresik yang mengembara ke Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang.
Makamnya kini masih bisa ditemukan di Desa Jatiduwur.
"Canggah itu dulu berangkatnya dari Driyorejo, terus ngamen karena memang seniman hingga akhirnya menemukan tempat bertapa di Jatiduwur,” cerita Sulastri Widianti keturunan ke-5 Purwo.
Selain seniman, Purwo juga dikenal sebagai seorang pertapa.
Kedatangannya dulu diduga kuat saat era kerajaan masih berlangsung, dimana kebiasaan bertapa adalah kebiasaan umum dilakukan orang-orang dengan kesaktian tertentu.
“Beliau dulu petapa, biasanya dilakukan di pohon ringin yang sekarang mungkin sudah digantikan pohon lain, dan membuat topengnya juga disitu,” lanjut Sulastri yang juga Ketua Wayang Topeng Purwo Budoyo Jatiduwur Jombang.
Tak heran jika hingga sekarang Ki Purwo juga dikenal sebagai sesepuh desa. Jika terjadi kejadian semacam bencana hingga prahara, seringkali disangkut pautkan kepadanya.
Bahkan, kesakralannya ini juga berimbas pada topeng yang ia buat. Terbukti, perlakuan khusus pada topeng-topengnya hingga di rumah Sulastri saat ini.
Saat ditanya perawakannya, Lastri menyebut Purwo adalah pria yang berperawakan layaknya petapa jaman dulu.
Badan tinggi tegap, membawa tongkat, rambut panjang dan biasa tampil dengan rambut yang tergelung di belakang. “Saya tahunya begitu memang,” imbuhnya.
Selain pembuat topeng, di awal perkembangan Wayang Topeng Jatiduwur ini, Purwo juga beraksi sebagai dalang sekaligus penari dalam pertunjukan tersebut.
Kemudian dilanjutkan beberapa generasi di bawahnya. Pemegang waris perawatan topeng selalu dilakukan di lingkup internal keluarga saja.
Berbeda dengan pewarisan dalang yang pernah diwariskan kepada orang lain di luar keluarga Purwo. Sedikitnya, kini sudah ada 7 generasi pewaris topeng ini dan 7 orang yang mewarisi kemampuan mendalang. (riz/fid)
Editor : Ainul Hafidz