JombangBanget.id – Kabupaten Jombang sepanjang 2025 diguncang rentetan kasus pembunuhan keji.
Tercatat sedikitnya tujuh kasus pembunuhan.
Terbaru, kasus menimpa Tri Retno Jumilah, 60, warga Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Jombang yang ditemukan membusuk di rumahnya dengan luka parah di sekujur tubuhnya, Kamis sore (13/11).
Polisi masih memburu pelaku.
Kasatreskrim Polres Jombang AKP Dimas Robin Alexander memastikan Retno tewas akibat tindak kekerasan.
Hasil otopsi ditemukan banyak luka serius di tubuh korban.
Mulai memar di wajah, kepala, dada kiri, hingga punggung tangan kanan.
Beberapa tulang juga patah. Ada tulang rahang bawah kanan, tulang pipi kanan, serta beberapa tulang iga patah karena hantaman benda tumpul.
Luka pendarahan hebat di kepala disebut sebagai penyebab utama kematian. Seluruh luka dan patah tulang itu terjadi saat korban masih hidup.
”Dipastikan korban pembunuhan. Luka yang kami temukan akibat kekerasan benda tumpul,” terangnya.
Polisi juga terus mendalami kasus. Beberapa saksi sudah dimintai keterangan.
Baca Juga: Mayoritas Pelaku Pembunuhan di Jombang Dipengaruhi Miras
Kini penyidik tengah mencari keberadaan suami siri korban berinisial P yang menghilang pascakejadian berikut satu unit sepeda motor korban yang juga raib.
”Terhadap P masih kami cari keberadaannya,” lanjut Dimas.
Kasus Retno menambah daftar panjang pembunuhan di Jombang sepanjang tahun ini.
Mulai perkelahian berdarah di barbershop Desa Sengon, temuan mayat pemuda di hutan Marmoyo akibat dikeroyok.
Kasus penemuan mayat siswi asal Kecamatan Sumobito yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan tiga pemuda bejat, kasus mutilasi di Dukuharum, Megaluh.
Hingga pembunuhan suami oleh istri siri di Johowinong, Mojoagung dan kasus pembunuhan nenek Mutmainah keponakannya sendiri.
Korban dianiaya, harga benda dirampas, mayat dibuang ke hutan dan dibakar.
Sementara itu, maraknya kasus pembunuhan sepanjang 2025 juga disorot kalangan praktisi hukum.
Siswoyo, praktisi hukum Jombang, menilai fenomena ini tak lepas dari pergeseran budaya dan perubahan perilaku masyarakat.
”Tentu kita harus prihatin dengan hal ini, kita lihat motifnya kan juga beragam, ada soal ekonomi, soal sakit hati bahkan sampai soal nafsu karena pengaruh pertemanan dan gaya hidup juga ya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang (6/11).
Menurutnya, perubahan perilaku sosial akibat arus global dan gaya hidup menjadi faktor dominan.
”Menurut saya, ini perubahan perilaku sosial dampak dari arus global, perubahan gaya hidup dan pertemanan, juga sangat berpengaruh,” lontarnya.
Akses informasi yang makin mudah juga disebut berperan.
“Misalnya ketika pelaku pembunuhan tahu cara membunuh dari informasi di lain tempat atau belahan bumi lain atau malah dari hiburan yang mereka tonton, ini juga faktor,” tambahnya.
Lingkungan pertemanan dan gaya hidup, lanjut Siswoyo, turut memicu tindakan keji.
”Misalnya bagaimana pembunuhan dilatari soal alkohol, atau pengaruh teman, ini juga turut berperan, jadi gaya hidup dan lingkar pertemanan juga sangat besar dampaknya,” ujarnya.
Karena faktor terbesar adalah perubahan perilaku, ia menekankan pentingnya benteng moral.
“Saya kira bagaimana seseorang terbentengi akhlak dan perilakunya akan jadi solusi dasarnya, selain juga menjaga gaya hidup dan pertemanan ya,” katanya.
Selain itu, penegakan hukum tegas dinilai wajib dilakukan untuk menghadirkan efek jera.
”Saya kira hukuman juga penting, saya lihat pemberian hukuman yang sudah dilakukan juga sudah cukup setimpal selama ini, meskipun efeknya mungkin belum sesuai yang menjadi tujuan,” pungkas Ketua DPC Peradi Jombang ini. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz