JombangBanget.id - Duka mendalam masih dirasakan keluarga Agus Sholeh, 37, korban pembunuhan disertai dengan mutilasi di Jombang yang jenazahnya dimakamkan di Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek, Rabu (19/2) sore.
Keluarga berharap, pelaku mendapat hukuman berat.
’’Dihukum yang setimpal, menghilangkan nyawa orang kok, terus terang kami sekeluarga kecewa sampai segitunya,’’ kata Yusuf Dedi, 40, kakak kandung korban.
Yusuf mengenang, sehari-hari adiknya tak banyak bicara ketika berada di rumah.
’’Almarhum pendiam, tertutup orangnya,’’ kata Yusuf dengan suara lirih ketika ditemui di rumah duka.
Korban yang satu tempat kerja dengan dirinya di Mojokerto hanya bicara seperlunya saja.
’’Hampir gak pernah ngomong kalau di rumah, kalau ada perlu aja ngomong,’’ ucapnya.
Yusuf tak menyangka, Sabtu (8/2/) sore, merupakan pertemuan terakhir dengan sang adik.
Yusuf dan korban sama-sama bekerja di sebuah percetakan di Mojokerto. Saat itu, korban lebih dulu pulang dari tempat kerjanya.
’’Pulang gak tau jam berapa, terus kata ibu pamit lagi keluar, gak tau pamitnya kemana dan setelah itu tak pernah kembali sampai sekarang,’’ urai Yusuf mengenang kepergian adiknya.
Hingga kemudian, keluarga mendapat kabar ada penemuan mayat tanpa kepala di saluran irigasi persawahan Dusun Dukuhmireng, Desa Dukuharum Kecamatan Megaluh.
Baca Juga: Mayat Korban Mutilasi Masih di Kamar Jenazah, RSUD Jombang Berikan Tanggat Waktu 30 Hari
Serta potongan kepala di tepi sungai di Desa Pesantren, Kecamatan Tembelang, Jombang pada Rabu 12 Februari 2024.
Bersamaan itu, polisi yang mendapat informasi Agus hilang sejak Sabtu (8/2), datang ke rumah Agus.
Dari serangkaian proses penyelidikan, ciri-ciri yang identik dan bukti-bukti kuat, terungkap jika mayat korban mutilasi itu Agus.
’’Polres ke sini beberapa hari. Kesini lagi pas ada bukti sepeda motor sama HP,’’ ujarnya.
Setelah mengungkap identitas korban, polisi dapat menangkap terduga pelaku. Yusuf mengaku tidak mengenal orang yang tega menghabisi nyawa adiknya secara sadis.
Dia juga tidak mengetahui persoalan antara korban dan pelaku hingga terjadi pembunuhan dan mutilasi.
’’Belum tahu kenapa (pelaku) setega itu,’’ katanya.
Pelaku Sempat Bawa Motor Baru
Sementara itu, ditangkapnya Eko Fitrianto, 39, pelaku pembunuhan dan mutilasi di rumahnya Dusun Plosowedi, Desa Plosogeneng, Kecamatan Jombang memang mengejutkan warga.
Terlebih, beberapa warga sebelumnya sempat kaget Eko tiba-tiba membawa motor baru ke rumah. Yakni Scoopy warna hitam dengan nopol S 6306 WO.
’’Sempat kaget, tiba-tiba dia bawa motor baru, tapi ya ndak mikir aneh-aneh, mungkin beli,’’ kata Warsono, ketua RT tempat pelaku tinggal.
Setelah membawa motor pulang ke rumah, Eko sempat melakukan ritual layaknya warga yang membeli motor baru.
’’Sempat disiram air kembang, umumnya warga kalau beli motor kan begitu biasanya. Tidak ada yang curiga,’’ terangnya.
Dari pengakuan istri dan keluarganya, motor itu dibeli pelaku dari seseorang dan difasilitasi pabrik tempatnya bekerja.
’’Waktu istrinya ke sini, juga cerita ke istri saya kalau motornya itu beli, pembayarannya dicicil potong gaji,’’ katanya.
Warsono memastikan, tak pernah ada yang tahu perihal asal usul motor itu hingga penangkapan dilakukan.
Terlebih, Eko memang dikenal orang yang tak banyak bicara bahkan cenderung tertutup dengan warga lain.
’’Orangnya jarang bergaul, pulang ya terus tidur. Keluar ya kerja, jarang sekali interaksi sama warga sini,’’ tambahnya.
Sementara Kepala Desa Plosogeneng, Bimo Rio, menjelaskan, Eko sempat tercatat punya masalah hukum.
’’Tahun lalu, dia sempat kena masalah bawa lari motor orang, modus COD,’’ terangnya.
Saat itu, Rio bersama perangkat desa berhasil menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan.
’’Akhirnya motornya dikembalikan, kita mediasi, kok sekarang malah seperti itu,’’ ucapnya.
Pelaku dan korban saling kenal. Sama-sama pernah bekerja di pabrik kayu.
Untuk menghilangkan jejak, pelaku mengganti nopol sepeda motor korban dari yang semula S 4729 OAD menjadi S 6306 WO.
’’Pelaku juga mengganti kartu HP korban,’’ kata Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Margono Suhendra.
Nomor baru itu kemudian digunakan berkomunikasi dengan keluarga korban untuk mengelabui seolah-olah korban masih hidup dan bekerja di Bali. (riz/jif)
Editor : Ainul Hafidz