JombangBanget.id – Ambrolnya proyek plengsengan milik Balai Besar Wilayah Sungai (bbws) Brantas di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang tak luput dari perhatian publik.
Forum Rembug Masyarakat Jombang (FRMJ) menengarai kerusakan dipicu rendahnya kualitas material serta pengerjaan yang asal-asalan.
”Bangunan itu loh masih beberapa bulan tapi sudah rontok seperti itu. padahal materialnya dari cor, pastinya ada masalah di sana,” ujar Ketua FRMJ Jombang Joko Fattah Rochim.
Menurutnya, ada yang janggal dari bangunan tersebut.
Dikarenakan tidak hanya satu titik saja yang mengalami kerusakan, tapi sudah banyak yang rusak.
”Sebelumnya kan juga di Kecamatan Diwek juga rusak parah. Padahal itu belum banjir,” ungkapnya.
Menurut Fattah, yang bertanggung jawab dalam hal ini tidak hanya kontraktor akan tetapi konsultan pengawas maupun PPK (pejabat pembuat komitmen) juga harus bertanggung jawab.
”Fungsinya konsultan pengawas kemarin seperti apa,” tegasnya.
Seharusnya apabila mengetahui adanya kejanggalan pada material maupun pekerjaan, fungsi konsultan pengawas memberikan teguran.
”PPK juga harusnya mengawasi pekerjaan itu. Kalau tidak sama saja dengan makan gaji buta,” katanya.
Tentu karena ini masih menjadi tanggung jawab kontraktor karena masih masa pemeliharaan.
”Semestinya PPK melakukan pengecekan ke bangunan yang tidak rusak. Apakah sudah sesuai atau tidak. Khawatirnya hanya melakukan pengecekan yang rusak saja,” terangnya.
Dirinya juga mendorong APH (aparat penegak hukum) menerjunkan tim melihat pembangunan proyek tersebut.
Kerusakan plengsengan bisa jadi pintu masuk aparat penegak hukum menyelidiki.
”Tentu APH bisa masuk, karena bangunan sudah rusak padahal bangunan baru. Terlepas masih masa pemeliharaan,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pembangunan plengsengan di saluran Sekunder Gambiran, tepatnya di Dusun Betek Barat, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang menjadi rasan-rasan warga.
Sebab, keberadaan plengsengan yang baru dibangun 2023 itu sudah ambrol.
Selain precast lining di tanggul terlihat rontok, panjang plengsengan yang rontok mencapai 20 meter.
”Kalau tidak salah ambrol sudah satu minggu lalu,” ujar Abdul Ghozi salah satu warga sekitar.
Dirinya menyebut, saat itu kondisi debit air di sungai sangat tinggi hal ini membuat material tanggul langsung jebol.
”Waktu itu memang kondisi debit airnya besar, kemudian ambrol,” katanya.
Meski demikian, pekerjaan terbilang asal-asalan. Sebab, belum genap satu tahun, bangunan tersebut sudah rusak.
Jika melihat kondisi seperti itu, ia menyebut kualitas pembangunan terkesan asal-asalan.
Baca Juga: Habiskan Anggaran Rp 59,6 Miliar, Proyek BBWS Brantas di Jombang Baru Dibangun Ambrol
Seharusnya, para pekerja bisa memperhitungkan debit air yang melintasi sungai tersebut agar bangunan tetap awet.
”Kalau melihat bangunanya memang rata-rata seperti ini. Pasti tidak akan bertahan lama,” tegas dia. (yan/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz