JombangBanget.id - Ahmad Tohari, tak menampik jika rumahnya diserbu orang yang menyebut dirinya member dari aplikasi trading Smart Wallet.
Ia menyebut, tak bisa bertanggungjawab kepada puluhan orang itu, apalagi mengembalikan uang mereka.
Tohari bahkan mengaku dirinya juga sebagai korban dari Smart Wallet itu.
Tohari mengungkapkan aplikasi smart wallet itu merupakan aplikasi internasional yang berada di Amerika.
Aplikasi ini mempunyai berbagai pemasaran di sejumlah negara Asia seperi Hongkong, Malaysia dan lainnya. ”Memang cara pemasaran dari HP ke HP,” katanya.
Dia mengaku, awal mula bergabung Maret 2023 lalu. Dirinya memang kali pertama yang mengikuti aplikasi tersebut.
“Aplikasi itu kan berbentuk trading, jadi menaruh modal dulu minimal Rp 30 dolar Amerika atau Rp 470 ribu,” beber Tohari.
Setelah merasa hasilnya cukup baik, maka dia menambah modal hingga Rp 15 juta.
”Karena hasilnya bagus saya mengajak teman partai. Saya kasih modal, karena saya juga suka kalau melihat teman sukses,” katanya.
Akhirnya, teman-teman Tohari mulai mengenalkan aplikasi tersebut ke banyak masyarakat.
Dari mulut ke mulut akhirnya aplikasi ini menyebar dengan cepat.
Baca Juga: Gegara Ini Rumah Perangkat Desa Mancar Peterongan Jombang Digeruduk Warga
”Sebenarnya terkait direkur saya juga bukan direktur. Cuma leader karena awal mengikuti aplikasi ini,” tegas anggota Komisi C DPRD Jombang ini.
Saat disinggung puluhan warga yang geruduk rumahnya, ia mengaku juga tidak mengenal orang-orang tersebut.
Sebab, aplikasi trading memang menyebar dari mulut ke mulut. ”Jadi saya juga tidak kenal,” sebutnya.
Terlebih, dengan aplikasi itu dirinya juga mengalami kerugian cukup banyak.
”Saya juga mengalami kerugian banyak. Saya juga korban dari aplikasi ini,” pungkas Tohari. (yan/bin/riz)
.
Editor : Achmad RW