JombangBanget.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menggelar mediasi kasus mata siswa yang rusak terlempar kayu di sekolah, Rabu (28/2).
Mediasi antara pihak sekolah dan orang tua korban itu masih buntu.
’’Kami menerima pengaduan dari orang tua korban beberapa waktu lalu. Hari ini (kemarin,Red) kami tindaklanjuti antara orang tua korban dan pihak sekolah,’’ kata Senen, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang.
Mediasi di ruang kerja kepala Dinas P dan K Jombang tersebut belum mendapatkan hasil.
Senen menjelaskan, sekolah telah berupaya memberikan bantuan berupa uang tunai.
Namun sampai kemarin belum diterima orang tua korban.
’’Ada bantuan, tapi belum diterima. Makanya saya tidak bisa menjelaskan hasil mediasinya. Masih berproses,’’ urainya.
Senen juga belum dapat memastikan unsur kelalaian pihak sekolah.
’’Saya belum bisa menilai (apakah ini kelalaian sekolah atau bukan, Red), karena kasus ini sebetulnya juga sering terjadi di sekolah lain. Bukan berarti bullying atau kekerasan, tapi saling bermain tapi sarana bermain yang digunakan membahayakan sehingga menyebabkan kecelakaan. Itulah sebabnya kami mengupayakan agar diselesaikan kekeluargaan,’’ ungkapnya.
Pihaknya memastikan, kedua belah pihak, baik korban maupun pelaku sama-sama mendapatkan hak belajarnya.
’’Yang pasti mereka harus tetap sekolah, baik korban maupun pelaku,’’ tegasnya.
Baca Juga: Dijadwal Pekan Depan Mediasi Kedua, Soal Mata Siswa SD di Jombang Rusak Akibat Terlempar Kayu
Sementara itu, Erna Widyawati, orang tua korban, mengatakan, dalam mediasi itu, pihak sekolah menawarkan pengobatan 50:50.
Hanya saja, ia belum mendapatkan kejelasan, 50 persen terbut komposisinya seperti apa.
Apakah 50 persen sekolah, 50 persen orang tua pelaku, atau 50 persen sekolah dan 50 persen orang tua korban.
’’Terus terang, kalau saya yang dibebani 50 persen, saya keberatan. Anak saya ini sudah terluka, saya sudah dirugikan sebanyak-banyaknya. Tapi saya juga yang menanggung biayanya,’’ ungkapnya.
Menurutnya, asuransi yang dikelola oleh yayasan juga tidak jelas peruntukannya.
Dan berapa biaya yang akan diganti. Hingga kemarin, biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan, dan sampai kapan pengobatan dilakukan, juga belum diketahui.
’’Siswa diminta bayar premi Rp 50 ribu per tahun, tapi sampai anak saya kelas empat, saya tidak tahu bagaimana aturan main dari asuransi tersebut,’’ ucapnya.
Hingga kemarin, ID, korban yang matanya nyaris buta karena terlempar kayu oleh temannya masih belum sekolah.
Erna mendatangkan guru les agar ID tak ketinggalan jauh ketika masuk sekolah.
Matanya yang sempat menjalani operasi glaukoma, masih belum ada perkembangan. Pengelihatannya tetap hanya 20 persen.
’’Putih-putihnya itu menutupi sebagian yang hitam, masih menunggu hasil diagnosa dokter saat kontrol 5 Maret nanti. Tindakan apa lagi yang akan dilakukan, nanti saya tanyakan,’’ ucapnya.
Sementara itu, Kepala SD Plus Jombang, Ike Sinta Dewi, usai mediasi kemarin enggan berbicara banyak.
’’Intruksi dari kepala dinas tadi diminta cooling down dulu,’’ singkatnya sembari meninggalkan kantor Dinas P dan K. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz