JombangBanget.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jombang sudah memanggil pihak sekolah.
Terkait siswa SD di Kecamatan Jombang yang matanya nyaris buta karena terlempar kayu temannya.
’’Kita berharap, pengawasan di pergantian jam dilakukan lebih ketat,’’ kata Senen, kepala Dinas P dan K Jombang.
Ia memastikan jika hal itu bukan bullying, tapi kecelakaan.
Sebab dilakukan tanpa kesengajaan saat sedang bermain.
’’Orang tua yang bersangkutan juga siap membantu biaya pengobatan,’’ jelasnya.
Ia berharap, kejadian serupa tidak terjadi lagi di sekolah.
Pengawasan dalam kelas saat pergantian jam mengajar guru harus dilakukan lebih ketat.
Termasuk tidak membiarkan siswa bermain dengan benda-benda yang membahayakan.
Senen mengatakan, kekerasan siswa di sekolah biasanya terjadi karena hal-hal sepele.
Omongan dan sapaan yang menyinggung dapat menyebabkan pertengkaran antar siswa.
Senen sering mengingatkan agar siswa tidak melakukan bullying baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Sebab pelaku bullying bisa dikenakan sanksi hukum.
’’Hal itu sering sekali saya sampaikan pada setiap kesempatan, di SMP maupun SD, kita harus cegah bullying,’’ tegasnya.
Hanya saja, aturan sanksi yang diberikan sekolah terhadap pelaku bullying masih belum maksimal karena terbentur dengan aturan lain.
Seperti larangan mengeluarkan siswa dari sekolah. Sebab, siswa usia SD dan SMP wajib mendapatkan pendidikan.
’’Pada prinsipnya, mengeluarkan siswa dari sekolah itu tidak boleh, karena belajar merupakan hak siswa,’’ tegasnya.
Kepala SD Plus Darul Ulum Jombang, Ike Sinta Dewi, pada Senin (22/1) membenarkan, jika terjadi kecelakaan di dalam sekolah yang menyebabkan mata salah satu siswanya terluka.
’’Kami pastikan itu bukan bullying, tapi kecelakaan,’’ ungkapnya.
Dia juga sudah melakukan mediasi. ’’Mediasi masih terus kami lakukan,’’ ujarnya.
Erna Widyawati, orang tua korban, menuntut orang tua pelaku membantu pengobatan sampai anaknya sembuh.
Anaknya sempat dirawat empat hari di RSUD Jombang. Lalu sekali operasi di RS Mata Undaan.
Penglihatan anaknya baru pulih 20 persen.
Namun orang tua pelaku hanya mau membantu Rp 10 juta. (wen/jif/fid)
Editor : Ainul Hafidz