Mimpi Kuliah di Luar Negeri, Lulusan SMKN 1 Jombang ke Taiwan

Wenny Rosalina • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 05:03 WIB
Fajriyah Nurrohmah lulusan SMKN 1 Jombang tahun 2025 yang sekarang kuliah di Southern Taiwan University of Science and Technology, Tainan, Taiwan, Jurusan Manajemen Perhotelan. (IST)
Fajriyah Nurrohmah lulusan SMKN 1 Jombang tahun 2025 yang sekarang kuliah di Southern Taiwan University of Science and Technology, Tainan, Taiwan, Jurusan Manajemen Perhotelan. (IST)

JombangBanget.id – Mimpi Fajriyah Nurrohmah kuliah di luar negeri terwujud setelah lulusan SMKN 1 Jombang itu mendapat beasiswa 60 persen dan berangkat ke Taiwan 25 September 2025.

Dia sekarang kuliah di Southern Taiwan University of Science and Technology, Tainan, Taiwan, Jurusan Manajemen Perhotelan.

Putri pasangan Amir dan Humaeroh berangkat ke Taiwan pada 25 September 2025 melalui program kuliah sambil bekerja. Ia memperoleh beasiswa 60 persen dari pemerintah Taiwan.

Baca Juga: Travel Tak Jelas, 83 Jemaah Umrah Jombang Beli Tiket Sendiri Rp 7,2 Juta

Fajriah lahir di Serang, 22 Februari 2007. Ia tinggal di Desa Plosogenuk Kecamatan Perak sejak duduk di kelas XI SMKN 1 Jombang.

Fajriyah aktif mencari informasi mengenai kesempatan belajar di luar negeri melalui Bursa Kerja Khusus (BKK) sekolah. Dari situlah jalan menuju Taiwan mulai terbuka.

Adanya program beasiswa membuat Fajriyah merasa mimpinya ke luar negeri untuk belajar tanpa membebani orang tua semakin dekat.

’’Dari dulu tekad saya ke luar negeri sangat tinggi. Awalnya saya pikir kuliah di luar negeri itu mustahil karena biayanya mahal. Setelah mendapat informasi program ini, saya melihat kesempatan  besar,’’ kata mahasiswa yang hobi menulis dan public speaking itu.

Baca Juga: Jalan Kemuning Jombang Ditutup 30 Hari, Catat Jalur Alternatifnya

Proses yang dijalani Fajriyah tidak berlangsung singkat. Informasi program mulai ia cari sejak akhir 2024. Memasuki Januari 2025, berbagai dokumen mulai disiapkan, termasuk paspor dan persyaratan lainnya.

Program yang diikutinya menggunakan skema 1+4. Satu tahun pertama belajar bahasa Mandarin, kemudian dilanjutkan empat tahun kuliah.

Sebelum berangkat, Fajriyah belum memiliki kemampuan bahasa Mandarin sehingga harus belajar dari dasar.

’’Program belajar bahasa mandarinnya sudah selesai, September ini saya mulai menjalani kuliah,’’ terangnya. 

Kini, selain kuliah, Fajriyah bekerja paruh waktu sebagai housekeeping di hotel setiap Sabtu dan Minggu. Penghasilannya  membantu menutup kebutuhan biaya kuliah sekaligus meringankan beban keluarga.

’’Alhamdulillah semua kebutuhan sudah ter-cover dengan pekerjaan part time. Saya juga bisa sedikit membantu orang tua dan membiayai adik saya yang mondok,’’ tuturnya.

Untuk membagi waktu, Senin hingga Jumat dia fokus untuk kuliah. Sedangkan pekerjaan dilakukan saat akhir pekan.

Baca Juga: Ditanam Belakangan, Padi MSP 65 di Jombang Panen Duluan

Ketika libur musim panas atau musim dingin, mahasiswa memiliki kesempatan bekerja lebih intensif hingga masa liburan berakhir.

Bisa kuliah di Taiwan sekaligus bekerja dimanfaatkan Fajriah sebaik mungkin.

Apalagi kampus tempatnya belajar juga turut membantu mencarikannya pekerjaan.

Bagi mahasiswa internasional, kesempatan  bekerja sangat luas. Mereka bisa mengetahui pekerjaan yang sesuai dengan waktu kuliah.

Baca Juga: UKM Asal Jombang Raih Jamsostek Award, Ini Komitmennya

Adaptasi di Taiwan menjadi pengalaman tersendiri bagi Fajriyah. Selain menghadapi perbedaan cuaca dan makanan, ia juga harus lebih berhati-hati memilih makanan.

Karena Taiwan merupakan negara dengan mayoritas penduduk nonmuslim. Namun, lingkungan kampus menyediakan pilihan makanan vegetarian dan sejumlah warung Indonesia juga mudah ditemui.

’’Warga lokalnya sangat welcome. Mereka juga sering memberi semangat ketika tahu kami datang untuk kuliah,’’ ucapnya.

Menurutnya, mental dan restu orang tua menjadi bekal utama bagi pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Ia juga menyarankan calon mahasiswa mempelajari bahasa Mandarin sejak dari Indonesia agar tidak terlalu kaget saat mengikuti pembelajaran.

Baca Juga: Kisah Dewi Sri Hidup di Panggung Wirosobo Fest 2026 Jombang

’’Yang paling penting mentalnya. Kita di negara orang, jauh dari orang tua. Jangan berekspektasi terlalu tinggi dan pastinya harus ada restu orang tua,’’ pesannya.

Selain adaptasi dengan lingkungan, ia juga beradaptasi dengan cuaca. Setahun di Taiwan, ia sudah merasakan musim panas dan musim dingin. 
Ia juga memiliki banyak teman baru dari berbagai negara.

’’Kebetulan saya tinggal di asrama. Asrama juga pindah-pindah tiap musim. Teman sekamar juga ganti-ganti,’’ urai gadis yang ingin menjadi pengusaha dan public speaker ini. (wen/jif)

Editor : Ainul Hafidz
luar negeri Jombang Kuliah taiwan SMKN 1