JombangBanget.id – Mahasiswa asal Jombang bisa berprestasi di mana saja.
Seperti Ahmad Maulana Yahya Firman Azizy yang kini kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Dia baru saja meraih juara dua kompetisi membaca kitab kuning tingkat ASEAN.
Baca Juga: Forki Jombang Mulai Panaskan Mesin, Seleksi Popda Jatim Tinggal Tunggu Juknis
Yahya yang bercita-cita menjadi ilmuwan di bidang keislaman lahir di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pada 18 Agustus 2007.
Namun, sejak berusia tiga tahun, ia menetap di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Gang I Nomor 06, Kecamatan Jombang, bersama kedua orang tuanya, David Sugiarto dan Yayah Muntoiyah.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDI Al-Azhar Sambongdukuh.
Kemudian MTs Salafiyah Syafi'iyah Tebuireng dan MA Salafiyah Syafi'iyah Tebuireng. Dari lingkungan pesantren itulah kecintaannya terhadap ilmu agama semakin tumbuh.
Baca Juga: Binrohtal: Mendidik Anak Saleh, Investasi Abadi yang Pahalanya Terus Mengalir
’’Saya merasa cocok dengan keilmuan yang ingin saya dalami. Orang tua juga mendukung penuh untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar karena memang ingin memperdalam ilmu agama,’’ terangnya.
Pada 2025, Yahya resmi berangkat ke Mesir dan kini telah memasuki semester ketiga di Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar.
Jurusan tersebut berfokus pada kajian fikih dan usul fikih atau hukum-hukum Islam.
’’Kalau di Indonesia mungkin mirip syariah, tetapi lebih spesifik mempelajari fikih dan usul fikih. Jadi fokus pada hukum-hukum Islam dan dasar-dasar penetapannya,’’ jelasnya.
Untuk menjadi mahasiswa Al-Azhar, Yahya harus melalui beberapa tahapan seleksi.
Tahap pertama mengikuti Tashih Mustawa atau tes penempatan kemampuan Bahasa Arab di Markaz Al-Azhar Indonesia.
Baca Juga: Menuju Desa Cerdas dan Berkelanjutan, Pemdes Penggaron Jombang Kolaborasi dengan Akademisi
Setelah itu, ia mengikuti daurah atau pembelajaran intensif selama satu bulan sesuai kurikulum Aliyah Mesir sebelum menjalani tes mu'adalah sebagai penyetaraan ijazah.
’’Lulus dari tes mu'adalah menjadi syarat untuk mendaftar ulang di Universitas Al-Azhar,’’ katanya.
Meski kuliah di Universitas Al-Azhar tidak dipungut biaya karena ditanggung pemerintah Mesir, mahasiswa tetap harus membiayai kebutuhan hidup sehari-hari secara mandiri.
’’Biaya kuliahnya gratis. Kami hanya membeli buku diktat kuliah. Yang ditanggung sendiri biaya hidup selama di Mesir,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Kasus Rudapaksa Gadis Difabel Jombang, Terdakwa Dituntut 12 Tahun Penjara
Semangat belajar Yahya sudah terlihat sejak masih mondok di Tebuireng.
Ia tidak puas hanya mengikuti pelajaran wajib di madrasah, tetapi juga mencari guru tambahan untuk memperdalam kitab kuning.
’’Kalau saya ingin mendalami satu kitab atau satu cabang ilmu, saya mencari guru lagi di luar jam pelajaran. Setelah selesai satu kitab, saya mencari guru yang lain lagi. Itu memang inisiatif saya sendiri,’’ tuturnya.
Di sela kesibukannya, Yahya juga memiliki ketertarikan pada pelajaran matematika.
Bahkan ia sengaja mencari guru tambahan untuk memperdalam bidang tersebut.
Kini, saat menjalani masa liburan kuliah di Mesir, fokus utamanya bukan beristirahat, melainkan mengikuti talaqqi, yaitu belajar langsung kepada para syekh di Jami' Al-Azhar atau Masjid Al-Azhar.
Baca Juga: Panen di Musim Kemarau Bawa Kabar Baik, Harga Gabah Petani di Jombang Melonjak Hingga Segini
’’Selain kuliah, yang paling saya fokuskan sekarang adalah talaqqi. Setiap hari mengikuti majelis para syekh dengan kitab-kitab tertentu di Masjid Al-Azhar,’’ urainya.
Ia juga melanjutkan hafalan Alquran yang telah dirintis sejak di pesantren.
Saat ini, hafalan menjadi salah satu target utama yang ingin diselesaikannya selama menempuh studi di Mesir.
Berbeda dengan sebagian mahasiswa lain yang aktif di berbagai organisasi, Yahya memilih membatasi aktivitas organisasinya.
Baca Juga: Kasus KPRI Sejahtera Jombang Dilaporkan ke Kejaksaan, Penyelidikan Mulai Berjalan
Baginya, masa kuliah merupakan waktu terbaik untuk memperdalam ilmu.
’’Pengalaman organisasi sudah saya dapatkan ketika di Aliyah. Sekarang saya ingin lebih fokus mencari ilmu. Organisasi yang berkaitan dengan tujuan tetap saya ikuti, seperti membantu almamater dan PCI NU di Mesir,’’ paparnya.
Hidup di Mesir tentu menghadirkan tantangan tersendiri.
Menurut Yahya, karakter masyarakat Mesir cukup berbeda dengan masyarakat Jawa yang cenderung kalem.
’’Orang Mesir itu kalau berbicara suaranya keras. Bagi orang Jawa awalnya pasti kaget. Selain itu, kita juga harus lebih hati-hati karena tingkat penipuannya memang cukup tinggi sehingga pendatang perlu lebih waspada,’’ bebernya.
Ia mengaku tidak mengalami kesulitan dalam urusan makanan. Banyak sayuran yang mudah ditemukan.
Baca Juga: Hakim Tolak Eksepsi Eks Direktur KSU Al-Kahfi Jombang, Kasus Rp 3,5 Miliar Berlanjut
Seperti kangkung, wortel, kentang, hingga brokoli, sehingga ia bisa memasak sendiri untuk menghemat biaya.
’’Nasinya juga ada. Saya lebih sering memasak sendiri karena lebih hemat dan makanannya juga cocok,’’ ungkapnya.
Di luar aktivitas akademik, Yahya hobi berolahraga dan berlatih di pusat kebugaran.
Ia berharap ilmu yang diperoleh di Universitas Al-Azhar dapat menjadi bekal untuk menggapai cita-citanya sebagai s ilmuwan yang memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz