JombangBanget.id – Ramadan di Mesir bukan sekadar bulan ibadah, melainkan peristiwa sosial dan spiritual yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Muhammad Hanif Syarifudin, mahasiswa asal Jombang yang kini kuliah di Universitas Al Azhar Kairo jurusan Tafsir Alquran semester 8, merasakan langsung bagaimana suasana Ramadan di Kairo menghadirkan pengalaman yang disebutnya sebagai hajah tsaniyyah atau tiada duanya.
Hanif yang tinggal di kawasan El Gamalia, Kairo, mengatakan, perkuliahan selama Ramadan tetap berjalan normal.
Aktivitas akademik di kampus tetap berlangsung, baik tatap muka maupun daring.
”Puasa tidak mengurangi ritme belajar. Perkuliahan tetap berjalan seperti biasa,” ujar warga Dusun Medan Bhakti, Desa/Kecamatan Sumobito, Jombang.
Yang paling mencolok, cara masyarakat Mesir mempersiapkan Ramadan sejak jauh hari.
Sejak bulan Rajab dan Syakban, warga sudah memperbanyak puasa sunah dan amal kebajikan.
Ia mengibaratkan tiga bulan itu seperti proses pertanian spiritual. Rajab menanam benih, Syakban merawat, dan Ramadan memanen pahala.
Memasuki Ramadan, suasana kota berubah total.
Rumah-rumah, kedai kopi, hingga jalanan dihiasi lampu fanus warna-warni khas Timur Tengah. Tulisan ’’Ahlan Ya Ramadan’’ terbentang di berbagai sudut kota.
Pita-pita panjang dipasang melintang di jalan, membuat malam Kairo tampak semarak.
”Bahkan sebelum Magrib, jalanan sudah penuh orang yang bersiap berbuka bersama,” katanya.
Tradisi paling kuat adalah maidaturrahman, jamuan berbuka puasa gratis yang digelar di tepi jalan atau halaman masjid.
Tradisi ini diyakini sudah ada sejak masa Ahmad ibn Tulun pada abad ke-9 Masehi dan terus bertahan hingga kini.
Para dermawan berlomba menyediakan ribuan porsi makanan setiap hari. Lengkap dari hidangan berat, buah, hingga minuman.
Di Masjid Al-Azhar, misalnya, setiap hari disiapkan sekitar 10 ribu porsi berbuka puasa. Semua orang dipersilakan duduk tanpa ditanya latar belakangnya.
”Tidak dipersoalkan apakah kita kaya atau miskin, warga lokal atau asing. Semua diterima,” tutur Hanif.
Bahkan pada masa krisis ekonomi maupun pandemi, tradisi ini tetap berjalan meski dengan penyesuaian.
Sebagai mahasiswa asing, Hanif merasakan keramahan luar biasa. Ia mengaku sering mendapat bagian sembako, uang bantuan, hingga mushaf Alquran.
Tidak jarang ada dermawan yang secara khusus menyediakan hidangan bagi mahasiswa luar negeri karena dianggap sedang menuntut ilmu di jalan Allah.
Malam Ramadan di Mesir juga terasa hidup. Salat Isya dimulai sekitar pukul 19.00, dilanjutkan tarawih hingga pukul 21.00 dengan pilihan 11 atau 23 rakaat.
Masjid Al-Azhar menjadi favorit karena dipimpin imam dengan bacaan qira’at yang merdu dan beragam.
Jemaah datang dari berbagai kota seperti Asyut, Manshuroh, hingga Giza demi merasakan suasana tersebut.
Memasuki 10 hari terakhir, qiyamullail dilaksanakan mulai tengah malam hingga pukul 03.00 dini hari. Kemudian dilanjutkan sahur bersama.
”Malam-malam Ramadan di Mesir hampir tidak terasa karena dihidupkan dengan ibadah berjamaah,” urainya.
Untuk menu berbuka, hidangan khas yang kerap tersaji adalah nasi sya’riyah atau nasi biryani.
Dilengkapi syurbah (sup merah berisi kacang polong dan wortel), ayam bakar atau daging, serta salad.
Minuman favorit di antaranya tamr hindi (ekstrak asam Jawa), susu campur santan, jus kurma, hingga aneka buah seperti pisang dan jeruk.
Berbeda dengan Indonesia, tradisi pasar Ramadan atau berburu takjil tidak begitu menonjol.
Warga lebih memilih berbuka di maidaturrahman karena di sanalah kebersamaan terasa kuat.
Namun, mahasiswa Indonesia di kawasan Musallas Distrik 10 tetap menyediakan jajanan khas Nusantara bagi yang rindu suasana tanah air.
Bagi Hanif, Ramadan di Mesir bukan hanya tentang kemeriahan lampu fanus atau melimpahnya hidangan berbuka, tetapi tentang semangat berbagi yang terasa di setiap sudut kota.
’’Seakan-akan mereka bekerja 11 bulan untuk satu bulan Ramadan, supaya bisa berbagi sebanyak-banyaknya. Itu yang membuat Ramadan di Mesir selalu dirindukan,” ungkapnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz