JombangBanget.id - Di luar aktivitasnya sebagai guru di SMKN Kabuh, Jombang, Nurhadi menjalani peran lain yang tak kalah menyita energi.
Yakni sebagai penggerak kewirausahaan sosial berbasis anyaman daun pandan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) Anya Craft.
Tak hanya usaha, bisnisnya itu juga memberdayakan masyarakat sekitar.
Usaha tersebut lahir pada masa pandemi Covid-19 ketika aktivitas ekonomi masyarakat desa mengalami penurunan drastis.
’’Saat itu banyak perajin tikar pandan mengeluh karena produk tidak laku. Desa saya kan memang sentra pembuat tikar pandan,’’ ungkapnya.
Ia melihat tumpukan tikar pandan yang tidak terjual bukan sekadar persoalan ekonomi.
Tetapi tanda bahwa inovasi produk belum berkembang.
Dari situlah ia mulai mengajak ibu-ibu pengrajin dan pemuda desa bertransformasi menciptakan produk kreatif bernilai tambah.
’’Potensinya besar, hanya perlu sentuhan inovasi,’’ ujarnya.
Langkah awal membangun kelompok usaha tidak berjalan mudah.
Selain mengajar penuh waktu di sekolah, Nurhadi harus mendampingi proses produksi, pelatihan desain, hingga pemasaran produk.
Bahkan, dalam satu hari, ia kerap berpindah dari ruang kelas menuju rumah produksi pengrajin.
’’Pagi mengajar, siang ke pengrajin, malam koordinasi program,’’ katanya.
Saat masih berstatus guru tidak tetap, tekanan manajemen waktu menjadi tantangan terbesar.
Ia harus memastikan tanggung jawab pendidikan tetap berjalan tanpa meninggalkan pemberdayaan masyarakat.
Kondisi itu membuat hari-harinya dipenuhi mobilitas tinggi. ’’Capek pasti, tapi saya merasa ini perlu dilakukan,’’ tuturnya.
Perubahan signifikan terjadi setelah ia menikah.
Bersama sang istri dan tim, pengelolaan usaha mulai tertata lebih profesional, mulai produksi, pendampingan, kontrol kualitas hingga inovasi produk baru.
Kolaborasi internal membuat beban kerja lebih terbagi. ’’Sekarang semua punya peran masing-masing,’’ ujarnya.
Konsep usaha yang ia bangun menitikberatkan pada optimalisasi kearifan lokal sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Produk anyaman pandan tidak lagi sekadar kerajinan tradisional, tetapi berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang mampu menembus berbagai program nasional.
’’Kami ingin produk lokal punya nilai global,’’ katanya.
Kerja panjang tersebut membuahkan hasil melalui berbagai penghargaan nasional, mulai Inotek Awards Jawa Timur, Pemuda Pelopor, hingga program sosial terdanai Pertamina Foundation dan lembaga nasional lainnya.
Namun Nurhadi menilai capaian itu sebagai tanggung jawab baru. ’’Penghargaan itu amanah untuk terus berkembang,’’ ucapnya.
Bagi Nurhadi, membagi waktu antara guru dan pengusaha sosial bukan persoalan memilih salah satu.
Kedua peran itu justru saling menguatkan karena memiliki tujuan yang sama: menciptakan kemandirian masyarakat melalui pendidikan.
’’Mengajar membangun pola pikir, usaha membangun kesejahteraan,’’ jelasnya.
Kini, di antara aktivitas sekolah dan pendampingan pengrajin, Nurhadi terus menjaga ritme pengabdian yang ia yakini sejak awal.
Ia percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil di lingkungan sendiri.
’’Kalau desa maju, pendidikan juga ikut kuat,’’ tegasnya. (riz/jif)
Editor : Ainul Hafidz