Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Update Seperti Handphone, Ini Tantangan Guru di Era Pendidikan Digital Menurut Nur Anas

Wenny Rosalina • Minggu, 25 Januari 2026 | 10:16 WIB
Kepala Seksi SMA dan PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Nur Anas.
Kepala Seksi SMA dan PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Nur Anas.

JombangBanget.id - Kabupaten Jombang dikenal luas sebagai barometer pendidikan.

Tidak hanya di Jawa Timur tetapi juga di tingkat nasional.

Julukan Kota Santri bukan sekadar label, melainkan cerminan tradisi panjang keilmuan yang terus hidup dan berkembang.

Di kota inilah pesantren, sekolah formal, dan inovasi pendidikan berjalan beriringan.

Menurut Kepala Seksi SMA dan PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Nur Anas, kekuatan pendidikan Jombang terletak pada warisan para pendahulu yang luar biasa.

Pesantren-pesantren di Jombang melahirkan santri dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, dengan prestasi dan kiprah yang tidak diragukan.

’’Pendahulu kita sudah luar biasa. Harapannya, ke depan akan lahir tokoh-tokoh nasional bahkan internasional dari Jombang,’’ ungkapnya.

Tantangan pendidikan hari ini tidak sama dengan masa lalu. Perubahan zaman menghadirkan pergeseran besar dalam cara belajar dan mengajar.

Jika dahulu bahan ajar berpusat pada guru dan buku, kini sumber belajar tersedia luas di genggaman tangan.

Materi dapat diakses melalui gawai, media sosial, dan berbagai platform digital.

’’Guru juga harus update seperti handphone,” kata Nur Anas. Jangan sampai guru tertinggal dari muridnya.

Baca Juga: Profil dr Ahmad Mahfur SpA, Dokter Spesialis Anak RSUD Jombang yang Konsisten Mengabdi untuk Generasi Sehat

Di pesantren sendiri, terdapat kaidah yang sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Al-muhafazah ‘ala al-qadim as-salih wal ahdu bil jadid al-aslah.

Memelihara metode lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih maslahat.

Prinsip ini menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan sejatinya telah diajarkan para ulama sejak lama.

Guru dituntut terus belajar dan memperbarui keilmuannya.

Jika pendidik berhenti belajar, sementara peserta didik terus mengakses berbagai sumber pengetahuan dari internet, maka guru berisiko mati gaya di depan kelas.

Pembelajaran akan kehilangan daya hidupnya.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga melakukan perubahan pendekatan pendidikan.

Saat ini, Kementerian Pendidikan menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam.

Pendekatan ini bukan sekadar strategi atau model mengajar, melainkan cara pandang utuh dalam proses pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran mendalam mengantarkan peserta didik mencapai delapan profil lulusan melalui tiga prinsip utama yang dikenal dengan BBM (berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan).

Berkesadaran berarti guru dan siswa hadir sepenuhnya dalam pembelajaran.

Jasad dan pikiran sama-sama berada di kelas. Bermakna menuntut guru menjelaskan tujuan belajar secara jelas agar siswa memahami manfaat setiap materi.

Sedangkan menyenangkan menegaskan bahwa pembelajaran harus bebas dari bullying, kekerasan, dan pemaksaan, sehingga guru dan siswa sama-sama menikmati proses belajar.

Ketiga prinsip BBM ini harus berjalan bersamaan. Guru dituntut memiliki perencanaan yang matang. Melaksanakan pembelajaran dengan kesadaran penuh.

Serta melakukan evaluasi berkelanjutan.

Dalam konteks perkembangan teknologi, Nur Anas menilai kehadiran teknologi termasuk kecerdasan buatan (AI) tidak bisa dihindari.

Teknologi harus diposisikan sebagai sarana, bukan satu-satunya alat.

’’AI bisa membantu guru menyusun perencanaan pembelajaran dengan lebih cepat, tetapi tetap harus disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan sekolah masing-masing,’’ jelasnya.

Guru tidak boleh bersikap apatis terhadap teknologi.

Sebaliknya, pendidik harus mampu mengarahkan peserta didik agar menggunakan teknologi untuk hal-hal positif sekaligus membentengi mereka dari dampak negatifnya.

Di luar tugas strukturalnya, Nur Anas dikenal memiliki kegemaran membaca.

Saat ini ia banyak membaca buku-buku terkait teknologi pembelajaran, penulisan karya ilmiah, dan pengembangan bahan ajar.

Baginya, semangat literasi memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra’ perintah untuk membaca.

’’Guru itu seperti pedagang. Kalau pedagang kulakan barang, guru kulakannya adalah membaca,’’ tuturnya.

Membaca tidak hanya dimaknai sebagai membaca buku, tetapi juga membaca situasi, lingkungan, dan suasana.

Dengan literasi yang kuat, kualitas pendidikan akan terus meningkat. (wen/jif)

Editor : Ainul Hafidz
#Santri #Kepala seksi SMA dan PKLK #profil #Guru Jombang #digital #dinas pendidikan jatim #cabdindik jombang #Pendidikan #Lirboyo #Jombang #guru #Cabang Dinas Pendidikan