JombangBanget.id - Di balik rutinitas padat sebagai guru, Ni’matuz Zahroh yang akrab disapa Anik punya perjalanan panjang yang tidak banyak diketahui orang.
Perempuan kelahiran Jombang, 7 Februari 1978 itu bukan hanya pendidik di MTsN 15 Jombang, tetapi juga penulis produktif yang telah menelurkan ratusan karya buku.
Karir kepenulisan Anik dimulai sejak muda. Putri pasangan almarhum M Mashudi dan Mimin Sukarmini itu tumbuh di lingkungan yang sederhana.
Namun berhasil membentuk ketekunan yang kelak menjadi fondasi kiprahnya.
Anak kedua dari lima bersaudara ini memulai pendidikan di MI Nidomiyah Ploso, Jombang.
Lalu melanjutkan ke MTsN 3 Jombang di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas. Kemudian MAN 3 di PPBU Tambakberas, Jombang.
Di situ mulai terbangun kecintaannya pada dunia literasi.
Anik melanjutkan studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di STKIP PGRI Jombang (sekarang Universitas PGRI Jombang) lulus 1999.
Pada tahun yang sama, ia memulai langkah sebagai pendidik.
’’Tahun 1999 itu pertama kalinya saya ngajar. Di berbagai sekolah. SMPN 1 Jombang, SMK Mahardhika, sampai di MTsN Tambakberas,’’ kenangnya.
Anik berhasil menuntaskan pendidikan magister (S2) di Universitas Negeri Malang melalui beasiswa dari Kemenag RI.
Baca Juga: dr Andri Catur Jatmiko, Dokter RSUD Jombang yang Berjiwa Pendidik, Berikut Profil dan Kiprahnya
’’Saya lulus Pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris 2011,’’ tuturnya.
Perjalanan panjang sebagai guru tidak langsung membawanya menjadi PNS.
Selama bertahun-tahun, ia mengabdi sebagai Guru Tidak Tetap (GTT). Sebelum akhirnya lolos rekrutmen Kemenag pada seleksi 2005.
SK pengangkatan turun pada 2006. Sejak itu, ia mengabdi di MTsN Tambakberas. Sebelum mutasi ke MTsN 15 Jombang pada 2021.
Di sela pengabdiannya sebagai pendidik, kecintaannya pada dunia menulis tidak pernah padam.
Ketertarikan itu sudah tumbuh sejak MAN. Ketika ia menjadi redaktur majalah sekolah.
Ritme menulisnya menemukan momentum terbesar saat pandemi Covid-19.
Waktu yang biasanya habis untuk aktivitas pendidikan hingga sosial, tiba-tiba menjadi ruang luas bagi dirinya untuk berkarya.
’’Menulis itu bagi saya refreshing. Healing tanpa biaya,’’ ujar ibu tiga anak tersebut sembari tersenyum.
Baginya, setiap pengalaman adalah cerita yang menunggu diabadikan. Sebagian besar karyanya berupa novel dan cerpen.
Ia juga menulis buku nonfiksi. Khususnya tentang praktik baik pembelajaran.
Kiprah literasinya tidak berhenti pada menulis buku. Anik aktif mengikuti berbagai lomba menulis tingkat daerah maupun nasional.
Banyak karya antologi yang ia hasilkan, justru berasal dari penghargaan lomba.
’’Tahun ini saja ada lebih dari lima lomba yang saya menangi, dan semuanya dibukukan,’’ ungkapnya.
Salah satunya, lomba menulis dongeng yang digelar Kementerian Pariwisata RI. Karya para juara kemudian diterbitkan dalam buku Catra Panji di Solo.
Hingga kini, Anik telah terlibat dalam sekitar 100 buku antologi dan menulis hampir 10 buku solo.
Rak buku di rumahnya penuh oleh karya-karya yang ia hasilkan dalam perjalanan panjangnya sebagai penulis.
’’Kalau ditanya jumlah pastinya, saya sendiri tidak mengingat. Tapi kemarin ada yang main ke rumah, ya mereka lihat sendiri dua rak besar itu penuh,’’ tuturnya sembari tersenyum. (ang/jif)
Editor : Ainul Hafidz