JombangBanget.id – Tekun, disiplin, dan pantang menyerah.
Tiga kata itu layak disematkan pada Hasan Zaldy Ulumuddin, pemuda asal Dusun Payak Santer, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Jombang.
Berbekal fondasi ilmu agama dari pesantren, Zaldy kini menapaki jalan pendidikan hingga ke negeri Tirai Bambu.
”Saya lolos program belajar ke luar negeri sekaligus kontrak kerja di perusahaan Sinoship China,” ungkap Zaldy penuh syukur.
Lahir di Jombang, 13 April 2006, putra pasangan Khambali dan Siti Muslikhatin ini dikenal tekun sejak kecil.
Hobinya bulu tangkis dan tenis meja, namun cita-citanya jauh lebih besar, yakni menjadi chief engineer di dunia pelayaran.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari MI Hadissalam Jombang, lalu MTs Al Hikam, hingga MA Al Hikam jurusan IPA.
Selama enam tahun, ia hidup sebagai santri di Pesantren Ma’had Mambaul Hikam.
”Pesantren sangat membantu membentuk kedisiplinan dan karakter,” tuturnya.
Selepas MA, Zaldy diterima di Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) Semarang, jurusan D3 Teknika. Kini ia memasuki semester 3.
Kesempatan emas datang lewat kerja sama Polimarin dengan Jiangsu Shipping College.
Dari 100 mahasiswa yang ikut seleksi, hanya 24 yang lolos. Zaldy salah satunya.
”Tidak semua bisa ikut. Program ini hanya dibuka bagi mahasiswa D3 Teknika semester 3, D3 Nautika semester 3, dan D4 Nautika semester 5. Dari seluruh prodi, hanya 100 mahasiswa yang berhak mengikuti seleksi, dan akhirnya hanya 24 mahasiswa yang dinyatakan lolos. Salah satunya saya, alhamdulillah,” ujarnya.
Seleksi dilakukan langsung oleh staf kampus dari Cina. Pengetahuan sesuai jurusan dan kemampuan bahasa Inggris jadi kunci.
”Dua hal itu yang paling ditekankan, menurut saya,” kata Zaldy.
Program belajar berlangsung tiga bulan, Oktober hingga Januari, lalu berlanjut Maret–April 2026.
Di Cina, ia merasakan sistem pendidikan yang jauh lebih disiplin.
”Di Cina, pembelajaran dimulai jam 08.00. Setiap 40 menit ada istirahat 5 menit. Dosen sangat tepat waktu. Kalau dosen berhalangan pagi, kelas bisa diganti malam,” jelasnya.
Selain kuliah, mahasiswa mendapat pelajaran bahasa Mandarin dan Inggris, fasilitas olahraga, sepeda kampus, hingga perpustakaan yang buka sampai malam.
Aturan asrama pun ketat. Lampu padam otomatis pukul 23.00, batas masuk maksimal pukul 22.00.
Meski sempat culture shock, mulai dari kamar mandi, makanan, hingga bahasa, Zaldy tetap optimistis.
Ia menikmati pengalaman baru, kelas malam bersama dosen Cina, bertemu mahasiswa dari berbagai negara, merasakan dingin 3°C, hingga merayakan tahun baru di negeri orang.
Untuk salat Jumat, ia rela menempuh perjalanan 40 menit naik kereta bawah tanah menuju masjid.
”Karena tidak ada masjid di dekat kampus, saya harus naik kereta bawah tanah sekitar 40 menit menuju masjid,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz