Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Cerita Siti Rahayu, Sosok Guru Inspiratif yang Lulus Doktor dengan Kekuatan Doa Orang Tua

Wenny Rosalina • Rabu, 8 Oktober 2025 | 15:02 WIB
Dr. Siti Rahayu, M.Pd. Wakil Kepala Sarana dan Prasarana SMAN Mojoagung
Dr. Siti Rahayu, M.Pd. Wakil Kepala Sarana dan Prasarana SMAN Mojoagung

JombangBanget.id – Sosok Dr. Siti Rahayu, M.Pd. Wakil Kepala Sarana dan Prasarana SMAN Mojoagung, menjadi inspirasi bagi banyak guru di Kabupaten Jombang.

Perjalanan panjangnya hingga meraih gelar doktor di bidang MIPA Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, bukan hanya kisah perjuangan akademik, tetapi juga kisah tentang kekuatan doa orang tua.

”Sejak saya belum lulus kuliah, ibu sudah membelikan baju Korpri. Harapan beliau sederhana, ingin saya jadi PNS. Ternyata itu bagian dari doa orang tua yang akhirnya terkabul,” kenang Rahayu.

Perempuan kelahiran Gunungkidul, 17 September 1973 ini meniti karier dari bawah.

Saat masih kuliah di IKIP Yogyakarta, ia sudah menjadi guru honorer dengan gaji hanya Rp 36.000 per bulan.

Jarak tempuh yang jauh tak menghalanginya untuk mengajar dengan sepenuh hati.

”Kalau dihitung finansial pasti minus, tapi saya sangat menikmati dan enjoy menjalaninya,” ungkap Rahayu.

Selain mengajar di sekolah, ia juga mengajar di sejumlah lembaga bimbingan belajar.

Dukungan sang ibu untuk pendidikan dan karier Rahayu ditunjukkan sejak dulu, mulai dari membelikan baju Korpri sejak sebelum lulus kuliah, hingga ibunya yang menaruh lamaran di sejumlah sekolah untuk bekerja setelah lulus.

Setelah lulus S1 tahun 1997, Rahayu kembali ke Jakarta tahun 1998. ”Orang tua asal Jogja, tapi tinggal di Jakarta,” ungkapnya.

Rahayu memiliki semangat yang tinggi untuk menjadi guru. Bahkan ia mengajar di banyak sekolah sekaligus.

”Bahkan saya pernah pegang 65 jam pelajaran dalam satu minggu, full pagi dan sore, pagi di MTs, sore di SMA dan MA,” katanya.

Tahun 2000 ia menikah dengan suaminya M Jazuli, baru kemudian pindah ke Jombang tahun 2001, setelah mertuanya sakit.

Setelah tiga tahun berhenti mengajar, muncul keinginan kembali mengajar.

”Akhirnya saya memberanikan diri izin ke suami untuk kembali mengajar. Saya kembali menaruh lamaran di sejumlah sekolah, dan saya diterima di SMP PGRI Sumobito, mengajar matematika,” ungkapnya.

Pada 2006 tepat usia 35 tahun, di mana batas maksimal mendaftar CPNS, ia diterima sebagai abdi negara.

Penempatan pertamanya di SMPN 1 Sumobito. Baru kemudian dimutasi ke SMAN Mojoagung pada Juli 2009.

”Daftar CPNS setelah beberapa kali gagal, saya belajar dengan keras, saat itu bulan Ramadan, saya belajar sambil mendengarkan tadarus di musala dan dalam kondisi hamil tua. Saya yakin kekuatan doa dan perjalanan rohani sangat berperan,” ujarnya.

Bagi Rahayu, semua keberhasilan yang ia raih adalah wujud nyata dari doa dan restu orang tua.

Putri kedua dari tiga bersaudara pasangan Tini Astuty dan Yusuf Rosyid tersebut selalu mengenang pesan sang ibu.

”Saya berasal dari keluarga sederhana. Ibu saya selalu berkata, anak-anakku jangan sampai bodoh seperti saya, harus sekolah setinggi-tingginya. Kalimat itu saya pegang sampai sekarang,” tuturnya haru.

Hal itu juga yang ia wariskan kepada keempat buah hatinya. Putri pertamanya yang lolos CPNS 2024, putri keduanya yang masih kuliah di UPN Veteran Yogyakarta, putri ketiga kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan putri bungsu yang masih duduk di kelas 6 SDIT Al Misbah Sumobito.

Kepada keempat putrinya, ia selalu berpesan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya saat masih kuliah dan sekolah.

”Saya tidak menuntut prestasi ini dan itu, yang saya minta mereka belajar dengan giat, menambah pengalaman sebanyak-banyaknya sebagai bekal, alhamdulillah yang kuliah sekarang menjadi asisten dosen, saya dukung itu agar mereka memiliki banyak pengalaman,” ungkapnya. (wen/naz)

 

 

 

Editor : Ainul Hafidz
#profil #inspiratif #Jombang #guru #SMAN Mojoagung