JombangBanget.id - Menjadi seorang guru bukan berarti berhenti belajar.
Hal ini dibuktikan Alfiyan Arief Mahfuzhi MPd, guru seni budaya di MAN 1 Jombang yang hingga kini tetap menjaga semangatnya untuk menimba ilmu. Terutama dalam bidang seni kaligrafi.
’’Pesan guru yang selalu saya pegang dan saya ingat; Ketika sudah menjadi pengajar, mau tidak mau tetap harus belajar,’’ ungkapnya.
Sejak awal kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) 2013, Alfiyan sudah menunjukkan potensi besarnya.
Ia langsung direkrut menjadi pembina di UKM Alquran Study Club, sebuah unit kegiatan mahasiswa yang membina berbagai bidang lomba seperti tartil, syarhil, cerdas cermat, hingga kaligrafi.
’’Saya direkrut sejak awal masuk kuliah, karena memang jalur prestasi. Dari situ saya dipercaya menangani pembinaan lomba,’’ kenangnya.
Di tengah kesibukan kuliah, Alfiyan juga berusaha mandiri dengan mengajar di berbagai sekolah.
Tercatat lebih dari empat sekolah ia tangani, meski saat itu dirinya masih berstatus mondok di Pesantren Miftahul Huda Gading, Klojen, Malang.
’’Saya mondok di Malang selama sembilan tahun, sejak S1 hingga S2. Di sela-selanya saya tetap mengajar seni budaya dan ekstrakurikuler,’’ ujarnya.
Setelah menamatkan pendidikan magister pada 2021, Alfiyan pulang ke Jombang dan diterima sebagai guru seni budaya di MAN 1 Jombang.
Kini, selain mengajar di kelas, ia juga aktif sebagai sekretaris pengurus asrama putra MAN 1 Jombang, serta membina ekstrakurikuler Banjari dan Kaligrafi.
Baca Juga: Itha Pujiarti, Kepala Sekolah yang Getol Membangun Karakter hingga Menuai Prestasi
Ketika sudah menjadi pengajar, mau tidak mau tetap harus belajar.
Prinsip inilah yang membuatnya tidak berhenti menimba ilmu. Ia masih nyantri di Sekolah Kaligrafi Alquran (Sakal) Denanyar sambil mengajar di sana.
Bahkan, ia juga aktif mengajar kaligrafi di Pondok Al Hikmah Kediri.
’’Semangat belajar itu tidak boleh padam. Mengajar sekaligus belajar, itu cara saya agar tetap bisa berkembang,’’ tegasnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz