Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Profil dan Kiprah Qoidatun Nisak, Kepala SMAN Ploso Jombang yang Tekankan Pendidikan Agama untuk Anak

Wenny Rosalina • Minggu, 29 Juni 2025 | 15:31 WIB
Kepala SMAN Ploso, Jombang, Qoidatun Nisak SPd bersama keluarganya.
Kepala SMAN Ploso, Jombang, Qoidatun Nisak SPd bersama keluarganya.

JombangBanget.id - Pendidikan agama merupakan salah satu bekal terpenting yang harus dimiliki anak.

Itu sebabnya, sejak kecil, kedua putrinya diarahkan untuk menempuh pendidikan di pondok pesantren.

’’Saya hanya mengarahkan, mereka yang menentukan, kebetulan keduanya mau mondok mulai dari jenjang SMP-SMA,’’ ungkap ibu dua anak ini.

Qoidatun Nisak lahir di Gresik pada 9 Maret 1976. Ia mulai pendidikan di SDN Gading Watu Kecamatan Menganti.

Kemudian nyantri di Roudlotul Mutaallimat Kedung Cangkring Jabon Sidoarjo, sembari sekolah di SMP dan SMA Avicena Kedung Cangkring Jabon Sidoarjo.

Lulus SMA, ia kuliah di Unej jurusan Pendidikan Fisika. Setelahnya, ia mengajar di dua tempat, MTs Bustanul Arifin Kebondalem Menganti dan SMAN 1 Menganti Gresik.

’’Baru setelah diangkat menjadi PNS tahun 2000, saya full di SMAN 1 Menganti,’’ ungkap istri dari Ari Winata tersebut.

Saat ini, ia sedang menunggu wisuda pasca sarjananya di Unesa Jurusan Manajemen Pendidikan.

Pernah nyantri selama enam tahun, membuatnya menyadari jika pendidikan agama begitu penting untuk remaja.

Hal itu juga yang membuatnya memberikan arahan untuk belajar di pondok pesantren untuk kedua putrinya.

’’7-14 tahun ini usia tawanan, jadi bekal agama yang tepat, menjadi sangat penting untuk anak,’’ ucap Kepala SMAN Ploso, Jombang ini.

Baca Juga: Profil Diah Puji Nalibrata, Wakil Rektor 2 Universitas PGRI Jombang yang Punya Rencana Pembelajaran Semester Dikonstruksi Berbasis Karakter

Ia menyadari, jika ilmu agama yang ia miliki kurang. Sehingga ia memasrahkan kedua anaknya di bu nyai dan kiai untuk belajar memperdalam ilmu agama.

’’Meski pernah nyantri, saya merasa masih kurang untuk membimbing secara langsung. Jadi saya pasrahkan ke pondok pesantren agar dapat ilmu yang tepat,’’ tambahnya.

Ilmu agama juga penting sebagai pegangan anak ketika berada di perantauan.

Seperti putri sulungnya yang kini sudah kuliah di Malang, masih tetap ingat dengan ibadah wajib yang harus dilakukan setiap hari.

Meski kini saling berjauhan dengan keluarga, anak pertama kuliah, anak kedua mondok, dan ia sendiri bertugas di Jombang.

Momen liburan seperti sekarang adalah hal yang paling ditunggu.

Merencanakan healing tipis-tipis dan sederhana dengan menikmati hangatnya kebersamaan menjadi salah satu cara agar bonding orang tua dan anak tetap terjaga.

’’Tapi meski jauh, saya terus komunikasi dengan anak-anak, setiap hari selalu absen, bahkan kalau tidak kasih kabar sehari saja, saya juga punya kontak teman dekat yang selalu saya hubungi,’’ jelasnya.

Komunikasi intens menjadi salah satu cara agar hubungan ibu dan anak tetap kuat.

Utamanya mengingatkan salat.

’’Meski anaknya sendiri sudah tahu kewajiban, saya setiap hari ingatkan salat, dan selalu dijawab sudah, itu sangat lega. Artinya dia tahu kewajibannya meski belum saya ingatkan,’’ tandasnya. (wen/jif)

Editor : Ainul Hafidz
#pendidikan agama #profil #gresik #menganti #kepala #Jombang #Anak #SMAN Ploso