JombangBanget.id - Pengasuh PP Raudlatul Tholibin Tambakberas, Dr KH Ahmad Fathoni Zen, menjelaskan mutiara yang ada dalam diri manusia.
Hal itu diutarakannya saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (23/6).
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Empat mutiara dalam diri manusia bisa hilang karena empat hal,’’ tuturnya.
Pertama, akal hilang karena marah. Akal anugerah dari Allah SWT untuk membedakan antara benar dan salah.
Namun ketika marah, akal akan hilang. Nabi sering berpesan; Jangan marah, jangan marah, jangan marah!
Di antara ciri orang bertakwa yang disebutkan dalam QS Ali Imron 134 yakni bisa menahan marah dan mau memaafkan.
Rasulullah bersabda: Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Orang yang mampu menahan marah padahal dia mampu melampiaskan, maka kelak di akhirat Allah SWT akan menahan marah kepadanya.
Kedua, malu hilang karena tamak atau mengharap pemberian. Nabi bersabda; Malu adalah bagian dari iman.
Namun ketika seseorang berharap kepada makhluk (terutama demi pemberian dan dunia), rasa malunya akan terkikis.
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: Mengharapkan dunia dari manusia akan menumbuhkan kehinaan dalam hati, dan mengharapkan Allah akan mengangkat derajatmu.
Ketiga, amal saleh hilang karena ghibah (menggunjing) alias membicarakan aib orang lain. Dalam QS Alhujurat 12, Allah SWT mengibaratkan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri.
Suatu ketika Rasulullah mencium bau busuk lalu berkata: Bau busuk ini berasal dari orang-orang yang berbuat ghibah.
Orang yang menahan dari ghibah, kelak di akhirat Allah SWT akan menahannya dari api neraka.
Keempat, agama hilang karena hasad yakni iri dengki, tidak suka orang lain dapat nikmat. Bahkan ingin nikmat orang lain hilang.
Rasulullah bersabda: Jauhilah hasad, karena sesungguhnya hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.
Imam Ghazali berkata: Hasad adalah penyakit hati yang paling berat, karena ia menolak takdir Allah dan membenci pembagian-Nya.
Agar tidak mudah hasad, kita harus yakni bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT.
’’Takdir tidak akan keliru. Semua karena kehendak Allah SWT,’’ tegasnya.
Apa yang menjadi bagian kita pasti akan sampai kepada kita. Apa yang menjadi bagian orang lain pasti juga akan sampai.
Jagalah empat mutiara ini dengan menjauhi empat penyakitnya. Kendalikan marah, agar akal tetap bercahaya.
Jangan berharap dunia dari manusia, agar rasa malu tetap hidup. Jaga lisan dari ghibah, agar amal tetap terjaga. Bersihkan hati dari hasad, agar agama selamat. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz