Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tempuh S2 di China, Begini Tips Warga Jombang Dapat Beasiswa dari Pemerintah Tiongkok Melalui Jalur Kedutaan

Wenny Rosalina • Sabtu, 14 Juni 2025 | 14:12 WIB
Aulia Alvi Laila Camali Camalica warga Jombang menempuh S2 jurusan Hubungan Internasional di Beijing Foreign Studies University, Beijing, China.
Aulia Alvi Laila Camali Camalica warga Jombang menempuh S2 jurusan Hubungan Internasional di Beijing Foreign Studies University, Beijing, China.

JombangBanget.id - Aulia Alvi Laila Camali Camalica memiliki semangat belajar tinggi.

Perempuan asal Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang Jombang kini tengah menempuh S2 jurusan Hubungan Internasional di Beijing Foreign Studies University, Beijing, China.

”Insya Allah Juni 2025 akan wisuda, dengan durasi pendidikan dua tahun,” ungkap Aulia.

Selain kuliah, Aulia juga aktif kegiatan journaling, menulis puisi hingga beberapa karyanya dimuat di platform media digital. ”Inginnya dibuat buku,” ungkapnya.

Ia juga aktif mengikuti seminar, menyimak kajian online, atau sekadar menonton pertunjukan.

Tahun pertama kuliah di China sangat padat. Beban kuliah bertempur dengan adaptasi LDR (long distance marriage).

”Anak saya yang saat itu baru menginjak usia 2 tahun saat pertama berangkat,” terangnya.

Menikmati lagu arabic sambil berjalan di taman, atau membaca buku di sudut yang rindang menjadi salah satu hiburan yang paling sering dilakukan.

Sebelum mempersiapkan diri untuk belajar di luar negeri, yang paling penting menurutnya adalah mental dan kegigihan.

Apalagi kuliah di luar negeri dipastikan akan jauh dari keluarga.

Ada banyak tantangan juga yang harus dihadapi, seperti pergaulan, kesiapan pada perbedaam cuaca hingga makanan.

Baca Juga: Bertemu Warga Jombang Merantau di Pekanbaru, Ini yang Dilakukan Gus Sentot

”Setelah diterima, kita harus memiliki kesadaran bahwa kita bukan warga lokal, kita minoritas, atau keterbatasan apa pun itu, dengan begitu apa pun yang akan kita lakukan akan mempertimbngkan risiko dan konsekuensi one step earlier,” ungkapnya.

Aulia kuliah menggunakan beasiswa Chinese Government Scholarship Tipe A atau Beasiswa pemerintah Tiongkok jalur kedutaan, yang bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama.

Untuk mendapatkan beasiswa itu, calon mahasiswa harus memiliki study plan yang otentik.

Menggambarkan ketertarikan dengan negara yang akan dituju, objek penelitian yang unik.

”Jelaskan chemistry/curiosity yang merasuki pikiranmu. Pancarkan auramu dari pemilihan diksi yang wangi dan fresh. Jiayou!,” tutur putra pasangan M Fatkhulloh Malik dan Adatul Istiqomah tersebut.

Sementara dokumen utama yang harus disiapkan adalah paspor, transkip ijazah, study plan/riset, sertifikat bahasa seperti TOEFL/IELTS/HSK menyesuaikan dengan negara.

Kemudian SKCK dan medical check-up. Sebelum dapat beasiswa itu, Aulia harus melalui beberapa tahap seleksi.

Tahap pertama seleksi dari LPTNU dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar identitas sebagai Nahdliyin. Saat itu, dari ratusan pelamar, terpilih sekitar 30 peserta.

Kemudian panitia dari LPTNU memandu para peserta untuk mengunggah berkas di web resmi CGS (Chinese Government Scholarship), dengan memberikan kode kedutaan dan surat rekomendasi dari PBNU.

”Setelah mengunggah berkas tersebut pada bulan Februari, selanjutnya nasib status kami ditentukan oleh official pemerintah Tiongkok yang me-review berkas, ini murni kewenangan mereka untuk menyeleksi,” jelasnya.

Ada tidaknya tahap wawancara tergantung kebijakan kampus yang dipilih.

”Kebetulan saya tidak mendapatkan ujian wawancara, jadi memang study plannya harus memikat,” ungkapnya.

Pengumuman keluar pada pertengahan bulan Juni.

Periodik setiap beasiswa bonafide umumnya bisa dipelajari, untuk pembukaan pendaftaran CGS biasanya ada pada bulan November tiap tahunnya.

Hal itu dapat dipantau melalui website studyinchina.edu.cn. CGS juga menyediakan berbagai tipe, tidak harus melalui kedutaan setempat.

Aulia memang memiliki cita-cita sekolah di luar negeri sejak remaja.

Dari situ ia mulai menyukai bahasa Inggris, meski sejak tingkat SD-SMA justru bahasa Arab yang ditekuni.

”Sekolah saya tergolong salaf, sekitar 80 persen kitab kuning. Tapi hukum ketidakmungkinan justru tidak berlaku, prinsip saya. Saya yakin, yang membawa saya sejauh ini adalah keberkahan doa para pendahulu dan dewan guru,” ungkap alumnus MI Bahrul Ulum (2011) dan Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum (2016) Tambakberas, Jombang tersebut.

Cita-citanya belum terwujud, hingga ia menikah dengan Achmad Farouq Rifqi tahun 2020 dan dikaruniai seorang anak Ahlanby Ahmada Galby.

Aulia tidak ingin terjebak di zona nyaman. Semangatnya untuk kuliah lagi justru makin membara setelah menjadi seorang ibu.

”Setiap melihat anak bayangan saya 10-20 tahun ke depan, apa yang bisa saya berikan untuknya,” ungkapnya.

Apalagi setelah berkeluarga, Aulia harus sepenuhnya mandiri. Tidak bergantung pada orang tua, termasuk pembiayaan kuliah S2.

Dengan tekad yang kuat, Aulia dapat melalui tahapan demi tahapan dengan mudah, mulai dari mepetnya waktu pendaftaran juga memenuhi syarat berkas atau dokumen hingga biaya medical check up yang tidak murah.

Pengalamannya juga dapat dijadikan pelajaran bagi pejuang beasiswa. Dengan berinisiatif mempersiapkan dokumen awal setelah memiliki niat kuliah lagi.

Bahkan jauh hari sebelum informasi pendaftaran ada. Kini hampir dua tahun Aulia hidup di China.

Ia harus merasakan jauh dari keluarga, hidup diperantauan juga harus meneguhkan spiritual, mengatur finansial yang sehat.

”Watak kita akan terlihat saat kita dihadapkan pada kebebasan dan berbagai pilihan,” jelasnya.

Apalagi ia harus jauh dari keluarga kecilnya. Itu menjadi tantangan terberat yang dihadapi.

Tak sama seperti saat ia masih single sekitar 2019, ia pernah ke Guilin China selama beberapa bulan. Saat itu rasanya hanya senang, dan enjoy.

Namun sekarang ia harus kuliah sambil memonitoring rumah.

”Sebisa mungkin saya hadir untuk keluarga meski dengan cara yang berbeda,”ungkapnya.

Eksplore China juga tidak maksimal. Sebab setiap libur semester, ia memilih pulang ke Jombang tepatnya di PP Al-Utsmany Bahrul Ulum Tambakberas Tambakrejo, Jombang untuk melepas rindu bersama keluarga.

China selalu membuatnya kagum. Kecanggihan teknologi membuat China layak menjadi percontohan negara merdeka sejati.

Serbacanggih sekaligus serbarepot bagi warga asing.

”China menolak akses Google dan tentakelnya, termasuk WhatsApp, Instagram, X, dan aplikasi Barat lainnya, China tidak mau mengadopsi, dia memproduksi saingannya yaitu Baidu, Alipay, Qiuqiu, dan lain-lain,” jelasnya.

Tiongkok menurutnya sungguh-sungguh menggunakan pendekatan yang humanis dalam hal pendidikan untuk meraih power dan national brandingnya.

”Di saat negara tersebut sedang mekar-mekarnya di taman, mereka tidak menutup diri untuk dikaji, justru mengundang warga global dan dimanfaatkan untuk internasionalisasi China dengan gerakan China Open/Reformasi Keterbukaan salah satunya melalui aspek pendidikan. Peran China pada perdamaian global sangat selaras dengan kebijakan luar negerinya,” pungkasnya. (wen/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#kedutaan #tiongkok #hubungan internasional #Warga Jombang #diaspora #Kuliah S2 #Beijing Foreign Studies University #china #Jombang #beasiswa #Tambakberas