JombangBanget.id – Ahmad Fayroz Abadi, pemuda asal Kecamatan Peterongan, Jombang kini tinggal di Kota Ibid, Yordania.
Selain kuliah pada Jurusan Ushuluddin di Yarmouk University Yordania, Fayroz juga aktif berorganisasi.
”Saya kuliah di sini sejak 2023 sampai sekarang,” kata putra pasangan Afifuddin Dimyati dan Laily Nafis tersebut.
Selain kuliah, Fayroz juga aktif berorganisasi di Yordania. Di sana ia juga aktif berorganisasi yaitu PCINU Yordania bagian JQH.
”Saya di sini juga ada organisasi khusus para mahasiswa Indonesia di Yordania bagi yang suka berorganisasi,” kata pria yang suka menulis dan olahraga tersebut.
Sebelum menjadi mahasiswa Yordania, ia sebelumnya sekolah di MIN 4 PPDU Jombang 2010-2016.
Kemudian melanjutkan ke MTs Darul Falah Amtsilati, Jepara hingga lulus 2017.
Lalu ke MA Darul Quran Terpadu di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta lulus 2023.
Sebelum memutuskan untuk kuliah di Yordania, Fayroz sempat memiliki beberapa pilihan, yaitu di Maroko, Saudi Arabia, dan di Yordania.
Yordania kemudian dipilih karena menurutnya yang paling membuka wawasan dan S1 di Yordania lebih cepat karena dapat mengambil 3 semester per tahun.
Menurutnya, kuliah di Yordania utamanya di Yarmouk University, kemampuan Bahasa Arab yang paling diutamakan, juga Nahwu Shorof, muhaddatsah, dan istima’.
Baca Juga: Ini Momen Paling Ditunggu Warga Jombang Kuliah di Universitas Al Azhar Mesir saat Ramadan Tiba
”Karena di sini materi yang disampaikan oleh dosen dalam bahasa Arab, agar tidak terkendala selama kuliah berlangsung, kemampuan bahasa Arab yang paling penting dimiliki,” jelas pemuda yang ingin menjadi seorang penulis dan pengusaha ini.
Meski Fayroz sudah memiliki kemampuan cukup bagus di bahasa Arab, di sana bahasa menjadi salah satu problem tersulit yang dihadapi.
Banyak orang-orang Arab Yordania yang tidak paham dengan bahasa Arab Fusha.
Di mana bahasa Arab Fusha merupakan bahasa Arab yang biasa dipakai di kampus dan dipelajari di pesantren-pesantren.
”Di sini lebih menggunakan bahasa Ammiyah Yordania,” jelas mahasiswa yang lahir di Khartoum, Sudan, 4 Juni 2004.
Tidak hanya mendapatkan ilmu dalam perkuliahan, ia juga mendapatkan banyak pengalaman selama tinggal di Yordania.
Seperti dapat berziarah ke makam-makam para Nabi, sahabat Rasulullah, dan Tabiin dan mengunjungi wisata-wisata bersejarah.
Tinggal di Yordania, Fayroz menemukan banyak perbedaan, baik dari bahasa dan kultur.
Salah satu culture shock yang ia alami saat awal-awal tinggal di Yordania adalah dari sisi makanan.
Di mana saat di Indonesia ia terbiasa dengan makanan pedas, sedangkan di Yordania, sulit menemukan makanan pedas.
”Ada satu makanan yang menurut warga sini pedas sekali, padahal bagi kita hanya terasa pedas sangat sedikit,” kisahnya.
Di Yordania mayoritas perempuan bekerja di sektor pendidikan, kesehatan, dan administrasi.
Lingkungan kerjanya lebih tertutup, dan hanya berinteraksi dengan sesama perempuan.
”Hal ini tentu saja berbeda dengan budaya kerja di Indonesia yang lebih fleksibel dalam pembagian peran, di mana kesetaraan gender dalam pekerjaan terlihat nyata,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz