JombangBanget.id – Ramadan menjadi momen yang ditunggu-tunggu mahasiswa asal Jombang kuliah di Mesir.
Banyak momen yang menyenangkan, salah satunya adalah buka puasa dan sahur gratis di Masjid Al Azhar Mesir.
”Di sini banyak budaya yang keren saat bulan Ramadan. Banyak orang berlomba-lomba menyediakan makanan gratis saat buka puasa dan sahur,” ungkap M A Dimas Awaluddin.
Warga Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang ini menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Mesir Fakultas Ushuluddin.
Tinggal di Distrik 7 Nasr City Kairo, pria kelahiran 10 Maret 2006 ini mengaku kagum dengan budaya-budaya Mesir, utamanya saat menyambut bulan Ramadan.
Di jalanan, banyak dijumpai tempat berbuka puasa gratis yang disediakan warga lokal khusus untuk Masisir (mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir) takjil gratis biasa disebut dengan maidah.
”Memang itu disediakan masyarakat setempat untuk warga pendatang seperti kita,” jelasnya.
Buka puasa dan sahur gratis juga disediakan di Masjid Al Azhar yang berada di lingkup Universitas Al Azhar Kairo.
Buka dan sahur itu disediakan khusus untuk para wafidin (pendatang dari berbagai negara).
”Dan warga lokal tidak boleh makan di sana,” jelasnya.
Yang lebih seru, banyak mahasiswa Indonesia yang berjualan takjil seperti gorengan atau es di beberapa tempat.
Hal itu sedikit mengobati rasa rindu merasakan vibes Ramadan di Indonesia.
Di Mesir datangnya Ramadan juga disambut dengan meriah, ditandai dengan gemerlapnya lampu.
”Kalau di Indonesia sudah seperti halnya ketika menyambut HUT RI,” jelasnya.
Beruntungnya, Ramadan tahun ini, masih dalam musim dingin. ”Jadi terik matahari tidak menjadi alasan untuk beribadah,” guraunya.
Putra pasangan Abdul Haris dan Indah Rusmala, yang ingin menjadi pakar tafsir Alquran memang berniat memperdalam ilmunya di Mesir, tepatnya di Univesitas Al Azhar Kairo, Mesir pada fakultas Ushuluddin.
Dimas mengawali pendidikannya di MI Perguruan Mua'llimat Cukir (2012-2018), kemudian lanjut di MTs Madrasatul Qur'an Tebuireng (2018-2021).
Lalu di MA Madrasatul Qur'an Tebuireng (2021-2024). Ia memilih Mesir karena Al Azhar merupakan pusat keilmuan agama bagi santri.
Sejak kecil, Dimas memang sudah memiliki ketertarikan dengan Bahasa Arab.
Bahkan ia punya role model yaitu pamannya sendiri, Dr Choirin yang selalu memberikan motivasi tentang luasnya ilmu agama di Mesir berdasarkan pengalamannya.
Dengan tekad yang kuat, ia kemudian mempersiapkan diri mengikuti tes ke Mesir dengan belajar berbagai ilmu dan menghafal Alquran.
Yang perlu dipersiapkan sebelum kuliah di Mesir selain niat adalah izin dari kedua orang tua, serta mempelajari bahasa yang bakal menjadi bahasa sehari-hari di Mesir.
”Meski komunikasi menjadi salah satu kendala paling besar yang saya hadapi, di mana masyarakat sekitar menggunakan bahasa ammiyah (bahasa daerah) meski kita sudah belajar di pondok tetap saja sulit,” jelasnya.
Hal yang menantang lainnya adalah cuaca. Di Mesir jarang hujan, tapi di musim dingin, suhu bisa mencapai 6 derajat celcius di pagi hari.
Suka membaca dan mencoba hal baru, Dimas tidak menyia-nyiakan kesempatannya selama belajar di Mesir.
Selain mengikuti perkuliahan, ia juga sering mengikuti kegiatan kajian kitab klasik (turats) dan setoran Alquran berserta ilmu qiro’atnya kepada guru-guru masyhur di sana.
Mesir tidak berhenti membuatnya kagum. Beberapa pengalaman berkesan dan dapat dipetik pelajaran sering kali ia dapatkan di sana.
Salah satunya pengalamannya saat setelah salat jamaah Duhur di Masjid Al Azhar, ia melihat Syekh Abdul Aziz Asy-Syahawi yang pulang dari mengisi pengajian di masjid dengan mengenakan pakaian yang sangat sederhana.
”Beliau hanya berjalan kaki yang beralaskan sandal sampai ke rumahnya. Di sini menunjukkan bahwa para ulama mengajarkan kita sebagai pelajar untuk senantiasa hidup zuhud (sederhana),” jelasnya.
Menempuh pendidikan di Indonesia dengan di Mesir menurutnya sangat berbeda.
Dimas yang kuliah pakai biaya mandiri tanpa beasiswa merasakan biaya pendidikan di Al Azhar Kairo sangat murah.
Jauh dari nilai UKT mayoritas kampus di Indonesia.
”Bahkan banyak masyayikh yang membuka pengajian secara gratis dan terkadang juga menyediakan makanan gratis bagi para pelajar,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz