JomnbangBanget.id – Sejarah runtuhnya tembok Bizantium (Konstantinopel) dari kekaisaran Romawi membuat Mohammad Sadad Muhtar tertarik dengan arsitektur yang ada di Turki.
Hingga membawanya belajar arsitektur di sana.
”Negara Turki mempunyai reputasi yang sangat baik untuk bidang arsitektur mempunyai sejarah yang panjang seperti sejarah runtuhnya tembok Bizantium (Konstantinopel) dari kekaisaran Romawi di tangan Muhammad Sultan Al Fatih,” kata Sadad, warga Desa Jarakkulon, Kecamatan Jogoroto, Jombang tersebut.
Putri pasangan Imam Muhtar dan Khuzaimatul Bariroh tersebut merupakan warga Jarakkulon yang sekarang tinggal di Karakaş Mahallesi 14 Kavakli Sokak No: 5 Merkez/Kırklareli.
Ia kuliah di Kirklareli University jurusan Arsitek. Saat ini ia sudah memasuki semester enam.
Sadad yang lahir di Jombang, 6 November 2000, memulai pendidikannya di MI Salbilul Huda, Desa Senden, Kecamatan Peterongan.
Ia kemudian melanjutkan di MTs Terpadu Al Munawaroh Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Jombang.
Setelahnya melanjutkan di SPM Pondok Pesantren Sulaimaniyah.
Tinggal di pondok pesantren membuatnya banyak memiliki koneksi untuk bisa mewujudkan keinginannya. Salah satunya adalah kuliah di Turki.
”Apalagi Sulaimaniyah merupakan pesantren tahfidul Quran asal Turki yang cabangnya hampir di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Melalui Pondok Pesantren Sulaimaniyah juga, Sadad mewujudkan mimpinya untuk belajar di Turki.
Ia tidak menggunakan beasiswa.
Ada beberapa jalur untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Turki, salah satunya adalah beasiswa YTB yaitu beasiswa dari pemerintah Turki yang bisa diambil dari Indonesia.
Untuk dapat beasiswa tersebut yang perlu disiapkan yaitu belajar. Sebab, untuk mendapatkan beasiswa tersebut harus melalui beberapa tes.
Seperti tes matematika dan tes potensi akademik, proses wawancara.
”Jadi, persiapkanlah dengan sungguh-sungguh karena peminat beasiswa tersebut sangatlah tinggi,” jelasnya.
Untuk belajar di Turki, ada beberapa hal yang harus disiapkan, seperti syarat administratif seperti ijazah, transkip nilai, dan lain sebagainya.
Semua dokumen tersebut harus diterjemahkan ke dalam bahasa Turki.
Visa pelajar juga bisa didapatkan dengan mudah, dengan cara menyertakan LOA (Letter of Acceptance), dan cetak rekening koran milik orang tua.
Dari sisi bahasa juga harus dipersiapkan dengan matang. Jika kemampuan bahasa Inggris dibuktikan dengan TOEFL atau IELTS.
Untuk belajar bahasa Turki, Sadad harus memastikan jika dirinya diterima di universitas yang dituju.
Setelah diterima, ia baru berangkat ke Turki dan datang ke univesritasnya, untuk mendaftar kursus bahasa di universitas masing-masing.
Kursus bahasa Turki dilakukan antara 5-6 bulan dan paling lambat 9-10 bulan.
”Setelah dinyatakan lulus kursus bahasa maka kita akan bisa langsung lanjut ke perkuliahan di semester yang akan datang,” jelas pria yang hobi desain dan sepak bola tersebut.
Sebelum mengantongi lisensi, Sadad tak memungkiri, kendala bahasa menjadi salah satu yang paling sulit di Turki.
Sebab, belajar bahasa Turki berbeda dengan belajar Indonesia maupun bahasa Inggris.
”Bahasanya sangat asing di telinga kita, itu yang jadi hambatan utama,” jelasnya.
Tantangan lainnya adalah soal cuaca, utamanya ketika musim dingin.
Sebab, ketika musim dingin bisa di bawah 0 derajat celcius. Namun, setelah 2-3 tahun di Turki, ia sudah terbiasa dan bukan jadi masalah besar lagi bagi Sadad.
Sistem perkuliahan di Turki berbeda dengan Indonesia. Di Turki, dalam satu semester ada empat bulan musim semi, lalu libur satu bulan musim dingin, masuk lagi empat bulan musim gugur, dan libur lagi tiga bulan musim panas.
”Tapi bagi saya bisa merasakan musim dingin adalah pengalaman yang berkesan, bisa merasakan salju asli juga bisa bermain sky, yang dulunya saya hanya bisa lihat di televisi atau film, sekarang menjadi kenyataan dan bisa merasakan sendiri,” jelasnya.
Awal-awal di Turki hingga kini sudah empat tahun di sana, ia mengalami sejumlah culture shock, utamanya dari segi makanan.
Di Turki tidak ada makanan pedas, dan rasa makanan juga menurutnya tidak pas untuk orang Indonesia.
”Rasanya beda sekali dengan Indonesia,” jelas pria yang ingin menjadi arsitektur tersebut.
Selain kuliah jurusan arsitektur di Universitas Kirklareli, Sadad juga aktif di organisasi dalam kampus maupun luar kampus.
Seperti tergabung di klub arsitek dan bola, serta organisasi PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) wilayah Kirklareli untuk organisasi luar kampus yang ia ikuti. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz