JombangBanget.id - Alba’u Saraba Hidayatullah memiliki cita-cita menjadi dokter sejak masih kanak-kanak.
Kini cita-citanya hampir tercapai.
Ia berhasil lulus menjadi wisudawan kedokteran pertama di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir dari Indonesia setelah 40 tahun.
”Terakhir dari Indonesia ada tapi 40 tahun yang lalu,” kata Alba, sapaan akrabnya.
Alba mulai kuliah di Fakultas Kedokteran Al Azhar Kairo, Mesir sejak 2019.
Usai lulus, ia menjalani pendidikan kedokteran dasar 3 tahun, koas 2,5 tahun, dan internship 2 tahun.
Ia baru diwisuda pada 23 Desember 2024 lalu.
Setelah lulus, ia bakal menjalani program internship di Rumah Sakit Hussein di Kairo selama dua tahun, dan berencana untuk melanjutkan studi spesialis yang juga dilakukan di Mesir.
”Ini baru rencana, belum pasti juga soalnya, lihat sikon dulu nanti setelah magang insternship,” ungkap pria asal Desa/Kecamatan Megaluh yang suka olahraga angkat berat ini.
Keinginannya untuk tetap berada di Kairo karena ingin menambah pengalaman dan ilmunya semaksimal mungkin. Mesir dipilih karena memiliki banyak ulama besar.
Selain itu, ilmu kedokteran di Mesir termasuk yang terbaik di kawasan Timur Tengah. Banyak pakar spesialis lulusan Mesir yang bekerja di Mesir maupun di luar negeri.
Baca Juga: Warga Jombang Ini Terpilih sebagai Delegasi Green Ambassador di COP29 di Azerbaijan
Keinginannya kuliah di mesir dimulai saat dirinya masih menempuh pendidikan pesantren di Gontor tahun 2016.
Saat itu ada kunjungan grand syekh Azhar di Gontor. Sejak saat itu keinginannya untuk belajar di Mesir sangat menggebu.
”Entah bagaimanapun caranya saya harus belajar di Mesir, alhamdulillah bisa dapat kesempatan untuk daftar seleksi beasiswa dan diterima di jurusan yang juga sesuai dengan cita-cita saya,” ungkapnya.
Menurutnya, banyak jalur pendaftaran yang bisa dipilih jika ingin kuliah di Mesir.
Ada beasiswa Kemenag, pesantren Gontor, beasiswa PBNU dan lain sebagainya.
Spesial untuk fakultas kedokteran, calon mahasiswa diwajibkan memiliki ijazah IPA yang sudah diakui Al-Azhar.
”Seperti Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Modern Tazakka, Darun Najah, Pondok Amanatul Ummah dan lain sebagainya,” jelasnya.
Belajar kedokteran di Universitas Al Azhar tidak hanya mendapatkan ilmu kedokterannya saja.
”Tapi juga ada tambahan materi islami, seperti kedokteran, hafalan Alquran, Tarikh Islam, Aqidah, khot Arabi, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Mahasiswa Mesir harus menguasai banyak bahasa. Dan biasanya itu yang menjadi kesulitannya dalam belajar.
Sebab buku yang digunakan di sana menggunakan Bahasa Inggris, dan sedangakan penyampaian dari dosen menggunakan Arab Amiyah.
”Mungkin cuaca juga menjadi tantangan, karena di Indonesia tropis, di Mesir ada musim dingin, tapi harus membiasakan dengan cuaca tersebut, dan cuaca itu yang menjadi salah satu culture shock saya,” jelasnya.
Pria yang lahir di Jombang, 15 September 1997 ini, mulai pendidikan dasarnya di MI Mambaul Ulum Megaluh, lulus tahun 2010.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan SMP dan SMAnya di Gontor sampai tahun 2016.
Putra pasangan Suwarno dan Saidah ini juga aktif di sejumlah organisasi.
Ia aktif di bidang kepenulisan majalah Cakrawala IKPM, juga sebagai ketua Senat Mahasiswa Indonesia Fakultas Kedokteran Mesir, juga sebagai Co Founder Sharia Investama Fund. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz