JombangBanget.id - Menurut Kepala MTsN 9 Jombang, Abdul Haris SPd, hubungan baik dan saling pengertian antara anak dan orang tua harus ada agar tidak saling memaksakan kehendak.
Itulah yang dipelajarinya dari sang ayah dan kini ia tularkan kepada anaknya.
Keputusannya menjadi guru memang karena sang ayah. Namun, itu bukan berarti didikte yang tak bisa dibantah.
’’Orang tua saya dulu mengajak diskusi, karena kan tidak ada orang tua yang ingin anaknya jelek, tapi tidak harus pakai sistem pokok e, ruang diskusi selalu terbuka,’’ terang putra dari Syamsuri Zen dan Hj Siti Sutrisni.
Dari banyak wejangan itulah, ayahnya yang juga berprofesi jadi guru mengarahkannya menjadi seorang guru juga.
Hal yang sama, kini diterapkannya kepada tiga anaknya. Masing-masing anak dia berikan keleluasaan untuk menentukan masa depannya, namun tetap dengan proses diskusi bersamanya.
’’Anak pertama saya Bahrul Kamal Alghozali, waktu itu diskusi dan akhirnya melanjutkan pendidikan di Teknik, seperti saya dulu, sekarang di ITS,’’ ungkapnya.
Sementara anak keduanya, Muhammad Abdan Syukuro memilih jalan berbeda dengan anak keduanya.
Ia memilih meneruskan pendidikan salaf di Mualimin Tebuireng dan Paculgowang.
’’Sekarang masih kuliah, jurusan PAI juga, jadi memang berbeda dari kakaknya,’’ ucap suami dari Miftahul Hidayah ini.
Sementara putra ketiga, Zainal Musthofa Syamsuri, kini masih menempuh pendidikan di MAN 1 Jombang.
Baca Juga: Profil Lengkap M Agus Fauzan, Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto yang Punya Dua Usaha Ini di Jombang
Baginya, apapun pilihan anak asalkan baik, akan ia dukung. Meskipun ia juga akan tetap memberikan arahan agar anaknya tidak salah jalan.
’’Sampai hari ini, saya prinsipnya, apapun tujuannya asalkan baik, silakan. Yang jelas setiap hari satu yang saya pesankan, jangan lupa salat,’’ tegasnya.
Haris juga selalu memotivasi anaknya agar aktif berorganisasi.
Karena hal itu dia rasakan sangat banyak manfaatnya. Haris tercatat pernah menjadi ketua Jamiyatul Qurro wal Khitobah Masjid Jami Cukir.
Juga sekretaris PAC Ikatan Pelajar NU (IPNU) Kecamatan Diwek.
’’Sekarang saya juga masih ngopeni TPQ di masjid tempat saya tinggal,’’ kata pria yang sehari-hari tinggal di Desa Gajah Kecamatan Ngoro ini. (riz/jif)
Editor : Ainul Hafidz