Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Cerita Warga Jombang Kuliah di Belanda: Adaptasi Tak Butuh Waktu Lama Karena Aktif Berorganisasi

Wenny Rosalina • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 14:35 WIB
SUKSES: Muhammad As’ad warga Jombang yang kini tinggal dan kuliah di Belanda.
SUKSES: Muhammad As’ad warga Jombang yang kini tinggal dan kuliah di Belanda.

JombangBanget.id - Muhammad As’ad tidak hanya menempuh pendidikan di Belanda.

Ia juga mengembangkan pengalaman dengan aktif terlibat dalam kegiatan organisasi sosial kemasyarakatan.

Itu memudahkannya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru di Belanda.

”Di Belanda saya tidak hanya kuliah, tapi juga menghidupkan NU, melalui Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT),” kata As’ad.

Lahir dan besar di Sidoarjo pada 1 Desember 1982, As’ad kemudian bersekolah di MI Al Hikmah Buduran Sidoarjo, kemudian melanjutkan di MTsN Sidoarjo, dan di MAN 1 Jember.

Lulus MAN 1 Jember, ia kemudian kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya jurusan Sejarah dan Peradaban Islam.

Keinginannya kuliah di luar negeri muncul saat ia kuliah di Surabaya.

Hanya saja, saat itu ia tidak mudah mendapatkan informasi tentang kuliah di negara-negara Barat.

”Kalau di Timur Tengah banyak, tapi saya inginnya ke Barat,” katanya.

Untuk dapat informasi itu, As’ad harus mepet ke dosen yang pernah belajar di luar negeri.

Dengan dosen-dosen yang pernah punya pengalaman kuliah di negara Barat, ia menggali tips dan trik untuk bisa lolos beasiswa.

Baca Juga: Cerita Nur Chaqiqi Warga Jombang di Mesir: Kuliah di Universitas Al Azhar Berkat Dukungan dari Sosok Ini

Salah satu yang tersulit adalah nilai TOEFL yang minimal harus 570 kala itu.

Belajar TOEFL tahun 2008 tidak semudah belajar TOEFL saat ini. Sebab, saat itu belum ada YouTube.

Ia belajar dari buku dan kaset VCD yang dipelajari secara mandiri.

Sulitnya belajar TOEFL kala itu memberinya motivasi untuk memberikan bimbingan belajar Bahasa Inggris utamanya khusus santri yang akan mempersiapkan diri kuliah di luar negeri.

Belanda dipilihnya karena saat S1, As’ad belajar banyak soal sejarah.

Termotivasi untuk melihat perpustakaan di Leiden, yang memiliki banyak koleksi buku sejarah Indonesia maupun Islam.

”Karena saya belajar tentang sejarah, dulu Leiden menjadi salah satu kota yang sering diceritakan ketika saya belajar, jadi saya ingin sekali belajar di Leiden,” katanya.

Perjuangannya tak sia-sia, ia lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa di Leiden University di Leiden Belanda pada Jurusan Antropologi Masyarakat Muslim.

Pada 2008, ia mulai menjalani kuliah di Belanda.

Awal tinggal di Belanda, ia tak mengalami culture shock yang berlebihan.

Sebab  di Belanda, kelompok muslim juga besar, makanan halal yang mudah ditemui di setiap kota, sehingga tak sulit untuk menemukan daging ayam dan daging sapi di supermarket. Masjid juga ada di setiap kota.

”Di Belanda juga ada dua masjid yang terafiliasi dengan NU, yaitu Masjid Al Hikmah di Den Haag dan Masjid Al Ikhlas di Amsterdam,” jelasnya.

Banyaknya warga Indonesia di Belanda, serta keterlibatan As’ad di organisasi NU di Belanda, membuatnya tak butuh waktu lama untuk beradaptasi.

As’ad juga pernah menjabat sebagai ketua Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah NU (Lazisnu) PCI-NU Belanda pada 2016-2020.

Yang harus membutuhkan perjuangan dalam hal adaptasi hanya cuaca, di mana ada musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur.

Adaptasi dengan masyarakat sekitar juga tak terlalu sulit, karena warga lokal juga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari.

”Interaksi dengan masyarakat juga pakai bahasa Inggris, ke supermarket, toko-toko kelontong di Belanda juga pakai bahasa Inggris, di perkuliahan juga pakai bahasa Inggris, sehingga tidak ada kewajiban untuk belajar bahasa Belanda,” jelasnya.

Pada 2010 ia pulang dan resmi menjadi warga Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Jombang, setelah menikah.

Ia juga menjadi dosen di Unhasy. Pernah punya pengalaman S2 di Belanda, ia kemudian melanjutkan studi program doktoralnya juga di Belanda, yaitu di Radboud University Nijmegen, Belanda pada Jurusan Antropologi Masyarakat Muslim.

”Mulai kuliah tahun 2017, tapi sampai sekarang belum selesai karena sempat berhenti karena pandemi, sekarang menyelesaikan tugas akhir,” jelasnya.

Tentang sistem pendidikan, menurutnya, Indonesia dengan Belanda banyak perbedaan.

Jika S2 di Indonesia satu minggu bisa sampai delapan mata kuliah, di Belanda hanya dua mata kuliah. Hanya saja lebih berat pada tugas membaca.

”Kalau di Indonesia lebih kepada bikin makalah, kalau di Belanda tugas belajar yang berat,” pungkasnya. (wen/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#belanda #sidoarjo #Kayangan #diaspora #warga #Desa #Jombang #Kuliah #Diwek