JombangBanget.id - Ummi Khoirotul Lathifah, warga Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jombang sudah 10 tahun di Hongkong.
Kini ia tinggal di Saiwanho Hongkong.
Sempat tak betah karena kultur dan makanan yang cita rasanya berbeda jauh dengan Indonesia, namun perlahan akhirnya bisa beradaptasi.
”Awal-awal tidak cocok, karena di sini (Hongkong) makanannya rasanya gak karuan, bumbu yang dipakai hanya jahe, bawang putih, dan garam,” kata perempuan yang lahir pada 27 Juli 1992 tersebut.
Ita, sapaan akrabnya mengatakan, pertama kali ia ke Hongkong tahun 2014, sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Sebelumnya, Ita juga pernah bekerja di salah satu pabrik sepatu besar di Jombang.
Keputusannya untuk berangkat ke Hongkong karena ia melihat teman yang sudah berada di sana.
Mendapatkan testimoni yang baik, Ita kemudian terpengaruh dan berangkat ke sana.
Setelah ia mendapatkan lembaga penyalur PMI yang tepat, ia mengikuti segala prosesnya, mulai dari cek kesehatan, hingga belajar Bahasa Hongkong, sembari menunggu pembuatan paspor.
”Di sana saya juga banyak teman baru, belajar sama-sama,” katanya.
Selama persiapan itu, ia juga diajarkan tentang pengelolaan uang, dibekali keamanan jika terjadi hal yang tidak diinginkan di Hongkong.
”Dikasih nomor imigrasi dan nomor polisi Hongkong, jaga-jaga kalau terjadi sesuatu,” katanya.
Awal tinggal di Hongkong, yang paling ia rindukan selain keluarga adalah makanan Indonesia.
Sebab di Hongkong, makanan yang ada hanya dimasak menggunakan garam, jahe dan bawang putih.
Menurutnya, makanan yang paling cocok di lidahnya saat itu hanya telur dadar.
Saat awal-awal bekerja di Hongkong, Ita lebih banyak diam. Itu karena kemampuan bahasanya yang masih minim.
”Awalnya ya hanya banyak mendengar saja, tapi sekarang sudah lancar sendirinya,” katanya.
Bahkan, ia sering kali tidak nyambung, dalam menjalankan perintah yang diberikan majikannya.
”Sekarang sudah bisa, kalau dulu kadang bahasa majikan tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan,” katanya.
Culture shock lainnya adalah, jika di Indonesia bangun tidur langsung mandi, di Hongkong hanya cuci muka, kemudian sarapan pakai roti.
Cuaca juga butuh penyeusaian yang lama, sebab Ita yang tak terbiasa dengan musim dingin, ia kesulitan ketika tinggal di Hongkong, bahkan telapak tangannya sampai kering dan pecah-pecah.
”Setelah lima tahunan di Hongkong, baru terbiasa dengan cuaca,” jelasnya.
Biasanya, ia bekerja sebagai pengasuh para lansia di Hongkong.
Tidak hanya bekerja, selama di Hongkong ia memanfaatkan waktunya untuk menjelajah berbagai tempat wisata di sana.
”Biasanya yang dikunjungi orang Indonesia kalau ke Hongkong akan saya kunjungi, seperti patung Budha, patung Dewi Kwam Im, ocean park, disney land, pantai, gunung, semua saya kunjungi ketika libur,” jelasnya.
Meski banyak yang berbeda dan membuatnya sering rindu dengan Indonesia, putri ketiga pasangan Imron Sobari dan Aisyah Ulfa ini nyatanya selalu merindukan Hongkong.
Sebab, bekerja di luar negeri, bisa memenuhi semua kebutuhannya dan keluarganya.
”Dukanya pasti rindu keluarga, tapi sukanya, ketika gajian, saya bisa beli apa pun yang saya inginkan,” pungkas ibu dari Afrio Putra Alatif tersebut. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz