JombangBanget.id - Ilham Nur Hidayat warga Dusun Paras, Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Jombang sebelumnya merupakan pekerja service HP di Surabaya.
Kini ia bekerja sebagai operator produksi pembuatan PCB elektronika di Jepang.
”Sebelumnya tidak pernah terbayangkan saya akan bekerja di Jepang,” kata Ilham, yang kini tinggal di Nagano ken, Chino shi, Toyohira, Jepang.
Lulusan SDN Turipinggir 2 Kecamatan Megaluh, MTsN 14 Jombang, dan SMK DB 2 Jombang jurusan teknik audio video tersebut mulai suka bongkar pasang HP sejak SMK.
Ia kemudian mengembangkan kemampuannya dengan mengikuti pelatihan service handphone seluler di PTC Indonesia.
Sebelumnya, Ilham pernah bekerja di WTC Surabaya di bidang service handphone, juga bekerja di sebuah pabrik di Jombang sebagai operator produksi dan teknisi.
Ingin meningkatkan pendapatannya, dan meningkatkan kualitas hidupnya, Ilham kemudian memutuskan untuk bekerja di Jepang.
Menurutnya, Jepang adalah negara yang sangat aman bagi para pekerja, juga negara yang disiplin dalam segala hal.
”Itu sih yang awalnya menarik minat saya untuk bekerja di Jepang,” katanya.
Untuk bisa kerja di Jepang, bisa dilakukan melalui beberapa cara, bisa pakai visa engineering, visa tokutei ginou (izin tinggal untuk warga negara asing yang bekerja di Jepang), atau bisa melalui visa magang.
”Kalau pertama kali kerja di Jepang, disarankan untuk mengambil visa magang, karena di situ, nanti ada dua jalur, jalur negeri dan jalur swasta, seperti saya sendiri pakai visa magang di jalur negeri yang dapat dari Kemenaker,” katanya.
Awal-awal tinggal di Jepang, ia menganggap, seluruh teman adalah saudara, apalagi para senior yang telah lama tinggal di Jepang, mereka yang membantu Ilham untuk belajar bahasa.
Juga yang membantu Ilham beradaptasi di lingkungan baru.
”Yang paling penting adalah bahasa, kami membiasakan berbicara dengan bahasa Jepang, karena Jepang adalah bahasa yang digunakan sehari-hari oleh warga lokal sini,” jelasnya.
Ia bekerja di pabrik Yoshizawa Screen, sebagai salah satu perusahaan besar di Jepang.
Ia banyak belajar dari perusahaannya, utamanya selama di Jepang, ia lebih bisa menghargai waktu.
Putra pasangan Suyitno dan Indarwati mengatakan, sebelum memutuskan bekerja di Jepang, akan lebih baik, jika belajar dari jauh-jauh hari terkait kebiasaan orang Jepang.
Termasuk tingkat kedisiplinannya yang tinggi.
”Jepang beda jauh dengan Indonesia, tingkat kedisiplinannya sangat tinggi, biasakan dulu itu dilakukan di Indonesia, dimulai dari diri kita sendiri,” jelas pria yang hobi bulu tangkis.
Dalam hal disiplin, yang membuatnya paling salut, di jalan raya.
”Tidak ada mobil yang saling kebut-kebutan, menjaga jarak 5 meter antarkendaraan, antre dengan rapi ketika hendak masuk ke transportasi umum dan lain sebagainya,” terangnya.
Di Jepang, ia bekerja sambil jalan-jalan. Ia mengunjungi tempat-tempat wisata yang ia inginkan ketika hari libur.
”Apalagi kalau ada saweran dari bos, itu bagian dari sukanya, sedangkan dukanya, yang pasti jauh dari keluarga, dan tidak bisa menikmati makanan Indonesia yang enak dan murah, di sini mahal-mahal,” pungkas pria kelaihran Jombang, 10 April 2002 ini. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz