JombangBanget.id - Jepang dikenal sebagai negara dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi.
Begitu menurut Januar Riski Efendi, warga Dusun Paras, Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Jombang yang selama setahun terakhir bekerja di Jepang.
Kini ia tinggal di Kanagawa-Ken, Yokosuka Shi, Oppama.
”Saya bekerja di Jepang sejak 2023, sejauh ini saya merasa jika Jepang merupakan salah satu negara yang aman untuk pekerja asing,” kata Januar.
Putra pasangan Suyanik dan Kastari tersebut memulai pendidikan sekolah dasar di SDN Turipinggir 2, kemudian ke SMPN 1 Megaluh, SMKN 3 Jombang pada jurusan Teknik Geomatika.
Sebelum bertandang ke Jepang, ia sempat bekerja di Indonesia.
Ia bekerja di beberapa perusahaan besar, salah satunya PT Sweet Plan yang di Kalimantan.
”Sebagai juru gambar atau arsitek bangunan,” imbuhnya.
Setelah dari Kalimantan, ia juga bekerja di PT Asri Jaya Putra Perkasa di Jombang sebagai pengawas lapangan.
Kondisi ekonomi keluarga, yang memotivasinya untuk merantau lebih jauh, yaitu ke Negeri Sakura.
Di Jepang ia bekerja di perusahaan pembuatan kapal di Sumitomo Heavy Industries sebagai welder atau juru las.
”Saya memilih Jepang sebagai tempat kerja karena Jepang adalah negara yang aman untuk pekerja asing. Saya memilih ke Jepang karena faktor ekonomi keluarga yang membuat saya termotivasi untuk bekerja ke Jepang,” kata pemuda kelahiran Jombang, 16 Januari 1999 tersebut.
Ia merasakan perbedaan saat bekerja di Jepang dan di Indonesia. Di Jepang sangat mengutamakan kedisiplinan, dalam hal waktu.
Di sana juga sangat mengutamakan keselamatan para pekerja. Apalagi selama kerja di Jepang.
”Di hari kerja kami sebagai pekerja, di hari libur, kami sebagai turis,” katanya sembari tertawa.
Yang menjadi berat ketika tinggal jauh dari rumah adalah kerinduannya bersama keluarga.
”Itu adalah duka yang terberat bagi kami,” ungkap pria yang hobi olahraga tersebut.
Banyak cara yang dilakukan untuk bisa bekerja di Jepang, salah satunya melalui jalur swasta maupun jalur negeri.
Selain dua jalur tersebut juga banyak cara lain, salah satunya melalui visa engineering dan visa keahlian.
”Kalau saya sendiri kebetulan saya melalui jalur negeri di mana atas naungan Kemnaker RI langsung,” jelasnya.
Awal-awal tinggal di Jepang, bagi Riski tidak terlalu sulit, bahkan cenderung mudah.
Sebab, ia berprinsip jika di sana ia tak sendirian, banyak senior yang sudah bertahun-tahun bekerja di Jepang, yang membantunya cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Untuk bahasa, ia juga belajar mandiri, selama kurang lebih 2-3 bulan saja.
”Sebenarnya bahasa itu mudah kalau kita berusaha. Tapi yang membuat kita sulit adalah melawan rasa malas yang berlebihan,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz