Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Cerita Rizal Noersoesetija D Warga Jombang Tinggal di Jerman: Bekerja di Perusahaan Maskapai Penerbangan, Anak Lahir di Inggris

Wenny Rosalina • Sabtu, 27 Juli 2024 | 14:30 WIB
SUKSES: Rizal Noersoesetija Dwitantonoputra warga Jombang bekerja di perusahaan maskapai penerbangan dan tinggal di Jerman.
SUKSES: Rizal Noersoesetija Dwitantonoputra warga Jombang bekerja di perusahaan maskapai penerbangan dan tinggal di Jerman.

JombangBanget.id – Sejak 2005, Rizal Noersoesetija Dwitantonoputra, warga Jombang sudah berkeliling dunia, bukan untuk liburan, tapi bekerja.

Bekerja di perusahaan maskapai penerbangan, dari Inggris hingga ke Jerman.

”Sebelumnya saya tinggal di Isle if Wight (UK) dari tahun 2005, sekarang tinggal di August Bebel Allee 44, 28329 Bremen,” kata warga asli Perum Jombang Permai, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Jombang.

Rizal merupakan pria yang lahir di Banyuwangi, 6 Maret 1969.

Ia menamatkan pendidikan di SDN Penganjuran 2  Banyuwangi 1982, kemudian SMPN 4 Banyuwangi lulus tahun 1985.

Ia kemudian pindah dan menetap di Jombang dan sekolah di SMAN 2 Jombang dan lulus 1988.

Usai lulus SMA, ia kemudian kuliah jurusan Teknik Mesin ITS dan lulus 1994.

Sebelum kerja di Inggis, ia lebih dulu kerja di PT DI, yang dulu dikenal sebagai IPTN.

Pada 2004, ia mengikuti wawancara untuk kerja di Inggris, ia dinyatakan lolos dan 2005 mulai kerja di Inggris, di sebuah perusahaan penerbangan.

”Perusahaannya GKN salah satu projectnya untuk Airbus Inggris juga,” katanya.

Ia awalnya sendiri di Inggris, hingga beberapa bulan kemudian, ia mengajak istrinya, Sukristyorini untuk tinggal di sana.

Baca Juga: Cerita Maramita Elfani, Warga Jombang di Mesir: Kuliah di Al Azhar Kairo Terinspirasi dari Guru

”Anak saya Bravistya Amiruz Rizaldo Noersoesetija juga lahir di sana,” tambahnya.

Empat tahun belajar di Inggris, 2009 ia kembali mendapatkan tawaran untuk bekerja di negara yang lain, yaitu di Jerman.

Setelah mengikuti wawancara singkat, ia dinyatakan lolos untuk bekerja di Jerman.

”Dari dulu pengalaman saya bekerja sebagai engineer di bidang penerbangan. Spesifikasi saya di struktur analisis lebih detailnya kelelahan structure (fatigue and damage tolerance analysis),” ungkapnya.

Berpindah-pindah pekerjaan lintas negara, menurut Rizal bukan suatu hal yang mudah.

Ia harus membawa diri di lingkungan baru, mengikuti ritme kerja di tempat yang baru di mana cara bekerja orang Inggris dan orang Jerman dikenal dengan sangat serius.

”Mereka benar-benar serius kalau lagi bekerja, kita harus bisa mengikuti ritme mereka. Mereka yang saya tahu benar-benar memanfaatkan waktu liburan,” katanya.

Cara kerja di Jerman memang keras. Bekerja di Indonesia dinilai lebih santai dengan target yang tidak begitu tinggi.

Tapi kebiasaan pekerjaan dibawa pulang ke rumah. Sedangkan dengan di Jerman, target kerja tinggi, tapi memiliki waktu santai di rumah lebih besar.

”Tapi biasanya orang Indonesia bawa pekerjaan ke rumah, rasa sense of belonging-nya kurang. Kalau di sini waktu bekerja ya benar-benar untuk bekerja, waktu liburan ya benar-benar untuk libur dan release stress,” jelasnya.

WFH (work from home) yang sekarang banyak dilakukan termasuk di Jerman juga dibatasi waktu kerjanya.

Hubungan atasan dan bawahan di Jerman tidak terlalu terasa tidak seperti di Indonesia.

”Setahu saya beberapa rekan di sini bekerja ngumpulin uang untuk di habiskan waktu holiday,” jelasnya.

Baca Juga: Di Balik Kisah Warga Jombang Tinggal di Mesir: Kepincut Kuliah di Universitas Al Azhar Karena Alumni Datang ke Desa

Tinggal di negara bebas, Rizal terus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, mulai dari budaya, bahasa, hingga kebebasannya.

”Seperti pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kita harus bisa mentolerir budaya mereka. Di sini negara bebas tapi kebebasan kita juga dibatasi oleh kebebasan mereka,” jelasnya.

Bagi Rizal, bekerja di bidang penerbangan itu small world. Di mana jumlah perusahaan penerbangan dan pekerjanya terbatas.

Beberapa temannya ada yang masih bertahan di Inggris, ada yang ke US, ada yang ke Kanada hingga Belanda, dan dalam satu pekerjaan, karyawan berasal dari berbagai negara.

”Di sini rekan-rekan saya ada yang dari India, Argentina, Rusia, Spanyol, Prancis dan tentu saja Jerman. Karena dengan latar belakang yang beda-beda kita saling menghargai. Tujuan kita bekerja sama untuk kemajuan bersama kita saling dukung karena dalam satu tim,” katanya.

Bekerja di industri penerbangan, yang harus dikuasai adalah bahasa Inggris, baik di Jerman maupun di Inggris.

Meski dalam pekerjaan fasih dalam bahasa Jerman tidak terlalu diperlukan, tapi hal itu sangat membantu.

Jika dipekerjaan tidak terlalu dibutuhkan, bahasa Jerman sangat dibutuhkan jika mengikuti kegiatan di luar pekerjaan, seperti pemerintahan.

Gak pernah sama sekali mempelajari bahasa Jerman, dulu awal-awal di sini ya sangat susah, sekarang media sosial semakin canggih, jadi semuanya lebih mudah,” katanya.

Menurutnya, orang Indonesia memiliki kemampuan yang sama dengan pekerja dari berbagai negara lainnya.

Hanya saja yang menjadi kendala adalah visa kerja yang harus diurus perusahaan untuk pekerja.

Sedangkan dengan peluang yang sama diutamakan warga negara Jerman, Uni Eropa, baru kemudian Indonesia.

”Kalau mereka mau mengurus Visa kerja kita saya yakin orang Indonesia mempunyai kemampuan yang sama atau bahkan melebihi mereka,” katanya.

Baca Juga: Cerita Shabiatur Rhokimah Warga Jombang di Korea Selatan: Kuliah S2 Sekaligus Belajar Budaya Korsel

Tantangan terberat ketika awal-awal tinggal di luar Indonesia adalah adaptasi dengan musim, utamanya musim dingin.

Namun, lama kelamaan Riza mulai belajar dari pengalamannya.

”Saat ini sudah terbiasa menghadapi musim di Jerman,” singkatnya. (wen/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Warga Jombang #diaspora #Tinggal #perusahaan #jerman #maskapai #penerbangan #Jombang #inggris