Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Kesehatan Kota Santri Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik & Pemerintahan Politika Wisata

Cerita Hendah Widya Arnani, Warga Jombang di Belanda: Pindah Karena Suami, Anak juga Sekolah di Belanda

Wenny Rosalina • Sabtu, 20 Juli 2024 - 15:48 WIB

 

AKTIF ORGANISASI WANITA: Ir Hendah Widya Arnani warga Jombang yang sudah 24 tahun tinggal di Belanda.
AKTIF ORGANISASI WANITA: Ir Hendah Widya Arnani warga Jombang yang sudah 24 tahun tinggal di Belanda.

JombangBanget.id – Ir Hendah Widya Arnani sudah 24 tahun tinggal di Belanda.

Warga Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang ini aktif di organisasi sosial wanita.

’’Cita-cita saya menjadi perempuan yang berguna buat keluarga dan lingkungan. Dengan kemampuan yang saya punya,’’ kata wanita yang sekarang tinggal di Bergen Op Zoom Netherlands.

Ia pindah ke Belanda mengikuti sang suami, Ir Suhono Dwi Santoso yang bekerja sebagai Engineering Manufacturing Fokker Elmo.

Perusahaan yang bergerak di bidang industri penerbangan di Belanda.

’’Kenal suami karena sama-sama bekerja di industri pesawat terbang nusantara (IPTN) Bandung. Ke Belanda ikut suami, tapi saya tidak bekerja lagi di bidang penerbangan,’’ jelasnya.

Hendah menamatkan pendidikan dasar di SDN Jombatan 3.

Lanjut di SMPN 1 Jombang lulus 1985. Kemudian lulus SMAN 2 Jombang 1988.

Dia lantas kuliah D3 Teknik Perkapalan ITS Surabaya lulus 1992.

Setelah itu, melanjutkan S1 di Universitas Ahmad Yani Bandung jurusan Elektro Telekomunikasi lulus 1995.

Tahun 2000 ia mulai pindah ke Belanda, menjalani kehidupan baru bersama suami. Dua tahun di Belanda, ia pulang.

Kemudian berangkat lagi 2008-2009. Pulang ke Indonesia sebentar, kemudian berangkat lagi 2010 hingga sekarang menetap di Belanda.

’’2010 saya kembali dengan membawa anak saya yang baru berusia lima tahun,’’ ungkap ibu Parama Fawwaz tersebut.

Awal-awal di Belanda, ia mengaku kesulitan untuk beradaptasi dengan warga lokal.

Alasan satu-satunya adalah kendala bahasa. Sebab, tak semua warga lokal Belanda mampu berbahasa Inggris dengan fasih.

Tak ingin menyerah begitu saja karena ia bakal lama di Belanda, Hendah kemudian menutuskan sekolah lagi D2 di Zoovliet College Neteherlands, lulus 2002.

’’Itu sekolah Bahasa Belanda diploma 2,’’ ungkapnya.

Menurutnya, perempuan di Belanda dituntut harus mandiri. Tidak ada asisten rumah tangga (ART) yang membantunya, semua dia lakukan sendiri.

Begitu juga mengasuh sang anak yang masih berusia lima tahun.

’’Alhamdulillah anak saya beradaptasi dengan cepat. Mungkin karena anak-anak jadi lebih cepat nangkep,’’ jelasnya.

Putra sematawayang Hendah belajar di sekolah lokal Belanda.

Ia belajar dengan Bahasa Belanda. Sistem pendidikan di Belanda serba memudahkan siswa.

Ada tes IQ sejak di pendidikan dasar. Tujuannya, mengklasifikasikan siswa sesuai dengan kemampuannya.

’’Semua serba gratis di Belanda, utamanya pendidikan. Bedanya dengan  Indonesia, di sini tidak semua siswa bisa lanjut ke universitas,’’ ucapnya.

Baca Juga: Cerita Warga Jombang di Korea Selatan: Kuliah S2 di Gyeongsang National University Berkat Aktif Penelitian

Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuannya, sehingga tidak ada anak yang tertekan atau stres dalam belajar.

Mereka belajar di lingkungan yang kemampuannya sama.

Membawa anak ke luar negeri juga menjadi tantangan baginya.

Ia tidak bisa bekerja full time, sebab adaptasi di lingkungan anak butuh pendampingan penuh dari ibu.

’’Anak butuh sosok ibu lebih besar daripada di Indonesia, dimana kita bisa menitipkan anak kita ke orang tua, saudara atau pengasuh. Sedangkan di sini tidak ada, jadi kalau mau kerja ya part time,’’ bebernya.

Adaptasi cuaca juga cukup sulit baginya. Terbiasa tinggal di iklim tropis, di sana ia menghadapi banyak cuaca.

Cuaca dingin yang paling menantang, apalagi setelah turun salju.

Sudah menjadi hal biasa, pagi ketika mengantar sekolah, harus menyingkirkan salju agar bisa dilalui.

’’Di sini udaranya bersih, jarang ada orang pakai kendaraan bermotor, biasa pakai sepeda kemana-mana,’’ terangnya.

Bertahun-tahun di Belanda kini, Hendah aktif di organisasi sosial wanita di Belanda.

Hendah juga bekerja di  Indische Woning Moermont Belanda atau di rumah orang-orang yang sudah tua.

’’Mereka orang tua yang berkebutuhan khusus, seperti sudah dimensia, stroke, jantung, kanker dan lain sebagainya,’’ paparnya. (wen/jif)

Editor : Ainul Hafidz
#Jombatan #Sekolah #belanda #bekerja #diaspora #warga #Tinggal #Jombang #Anak #suami