JombangBanget.id – Kuliah di Mesir merupakan cita-cita Abdulloh Athif Syamsuddin, warga Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang, sejak kecil.
Setelah meraih beasiswa PBNU, kini Athif kuliah di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Baginya, Mesir adalah kiblat ilmu pengetahuan.
”Jika kiblat salat itu Kakbah di Makkah, maka kiblat ilmu pengetahuan itu ada di Mesir,” ungkap Athif yang kini tinggal di Madinatul Buuts Islamiyah di Jalan Ahmad Saed, Qism Daaher, Abbaseya, Kairo, Mesir.
Kuliah di Mesir, ia mudah untuk belajar langsung dengan para masyayih yang ahli di bidangnya, juga majelis-majelis ilmu yang banyak ditemui di sekitar Al-Azhar.
”Kuliah di Al-Azhar merupakan cita-cita saya dari kecil, yang mana saya terinspirasi dari banyaknya murid orang tua saya dan senior-senior saya yang kuliah di Al-Azhar pada masa itu,” kata putra pasangan Mochamad Syafii Wardi dan Masroziyah tersebut.
Ia mulai pendidikannya di TK Darul Falah Cukir, kemudian melanjutkan di MI Perguruan Mu’alimat Cukir.
Setelahnya melanjutkan di MTs Madrasatul Qur’an Tebuireng dan MA Madrasatul Qur’an Tebuireng.
”Selama sekolah di MQ saya juga mondok, tidak pulang ke rumah meski dekat, jadi mulai 2013 sampai 2019,” ungkap jejaka yang ingin menjadi guru atau dosen tersebut.
Usai mondok di MQ, ia lanjut nyantri di Pusat Study Al-Qur’an (PSQ-BQ) Tangerang Selatan 2019-2020.
Belum kenyang di pesantren, Athif lanjut mondok lagi di Darun Nuhat Lamongan pada tahun 2021.
Sejak dulu Athif sudah sering berbicara kepada kedua orang tuanya, jika nanti ingin kuliah di Al-Azhar Kairo.
Itu bukan omong kosong, Athif semakin serius dengan ucapannya, dengan cara menabung ilmu selama masih di Indonesia, mondok dari satu pesantren ke pesantren yang lain.
Pada 2020 ada informasi jika PBNU membuka tes beasiswa untuk studi ke Mesir. Tak berfikir lama, ia langsung ikut seleksi dan lolos beasiswa Al-Azhar.
”Semua ini berkat usaha kerja keras pantang menyerah dan yang paling penting doa dan rida dari kedua orangtua saya,” ungkapnya.
Athif mulai kuliah Oktober 2022 setelah menyelesaikan kelas bahasa di Markaz Tatwir Kairo, Mesir.
Menurutnya, yang perlu dipersiapkan jika ingin kuliah di Mesir adalah kemampuan bahasa.
Pendalaman bahasa Arab, Nahwu, Shorof, Balaghoh dan lain-lain harus matang.
Serta memiliki hafalan Alquran. Selama nyantri di sejumlah pesantren, Athif menyiapkan itu semua.
Selama belajar di Mesir, ia merasakan perbedaan suasana belajar yang begitu berbeda dengan Indonesia. Utamanya dari sisi bahasa.
Mahasiswa dituntut untuk faham dengan penjelasan dosen yang mengajar dengan menggunakan Bahasa Arab. Baik fusha maupun amiyah (bahasa Mesir).
Begitu juga dalam memahami buku pengantar atau diktat (Muqarrar), yang ditulis full dalam bahasa Arab dengan jumlah halaman yang banyak.
”Asyiknya di sini bisa menambah relasi dengan teman dari negara yang berbeda-beda,” ungkap pria yang hobi olahraga dan membaca tersebut.
Selain adaptasi bahasa, adaptasi cuaca juga tak kalah sulit. Jika panas hingga 43 derajat Celsius, jika musim dingin bisa sampai 3 derajat Celsius.
”Awal-awal di sini sempat kaget dengan kondisi cuaca dan lingkungan tempat tinggal, masih sering kangen dengan orangtua ketika awal-awal datang dulu, tapi Alhamdulillah sekarang sudah terbiasa,” jelas pria kelahiran Jombang, 07 Agustus 2001 itu.
Di tanah rantau untuk belajar, Athif juga aktif untuk setoran hafalan Alquran pada Syekh Abdullah, serta ikut majelis talaqqi bersama masyayikh ketika libur kuliah.
Selain itu juga masih tetap aktif berorganisasi di PCNU Mesir. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz