Jembatan Bailey Kudubanjar Jombang Segera Dibangun, Warga Gelar Doa

Ainul Hafidz • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:03 WIB
AKRAB: Warga menggelar doa bersama menyambut pembangunan jembatan bailey di Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang, Kamis (20/8). (Ainul Hafidz/Radar Jombang)
AKRAB: Warga menggelar doa bersama menyambut pembangunan jembatan bailey di Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang, Kamis (20/8). (Ainul Hafidz/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Pembangunan Jembatan Bailey di Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang, segera dimulai setelah warga menanti lebih dari enam tahun.

Menyambut kepastian tersebut, warga dari Dusun Banjarejo dan Ketapanglor menggelar doa bersama serta tasyakuran di lokasi jembatan, Kamis (20/8).

Warga berharap pembangunan jembatan berjalan lancar dan segera bisa kembali dimanfaatkan.

Baca Juga: 300 Ton Limbah B3 di Jombang Diangkut, Sisa Segini yang Belum Dipulihkan

’’Doa bersama digelar secara swadaya warga sebagai ungkapan syukur atas terealisasinya pembangunan jembatan yang selama ini dinantikan,’’ kata Kades Kudubanjar, Gatut Kuswanto.

Bancaan diikuti warga dari dua dusun yang berada di sisi utara dan selatan jembatan. Dari sisi utara berasal dari Dusun Banjarejo.

Sedangkan sisi selatan merupakan warga Dusun Ketapanglor.
Warga juga mengadakan acara tasyakuran. Secara swadaya, mereka menyembelih satu ekor kambing untuk melengkapi acara syukuran.

’’Sampai disembelihkan satu ekor kambing, karena rasa syukur warga atas terealisasinya jembatan ini,’’ imbuhnya.

Baca Juga: BPK Turun Audit Proyek Sekolah Rakyat Jombang, Ini Kondisinya

Jembatan di atas Kali Marmoyo putus pada malam pergantian tahun 2020, tepatnya 31 Desember 2019.

Kini, setelah penantian panjang, pembangunan jembatan bailey segera direalisasikan.

Pemdes Kudubanjar pun menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Jombang yang merealisasikan pembangunan jembatan tersebut pada tahun ini.

”Pemdes sangat berterima kasih kepada Pemkab Jombang. Karena tahun ini sudah ada kepastian,” katanya.

Suasana doa bersama berlangsung sederhana dan penuh keakraban. Warga menggelar tikar tepat di samping jembatan.

Mereka duduk bersila sembari bermunajat dan memanjatkan doa sebagai ungkapan rasa syukur atas dimulainya pekerjaan jembatan.

Baca Juga: Begini Respons Rais Aam Saat Tinjau Persiapan Muktamar NU di Tambakberas Jombang

Usai doa bersama, warga kemudian makan bersama. Hidangan yang disiapkan secara swadaya itu disantap bersama-sama, membuat suasana di lokasi jembatan semakin akrab.

Salah satu warga, Priyono, mengatakan, selama jembatan utama putus, warga harus mengandalkan jembatan sementara yang dibangun secara swadaya.

Namun, jembatan itu memiliki ukuran yang sempit sehingga tidak bisa dilalui kendaraan secara bersamaan dari dua arah.

”Setelah jembatan putus dulu itu warga swadaya membangun jembatan sementara, cuma sempit. Hanya bisa dilalui satu kendaraan, harus gantian kalau lewat,’’ kata Priyono.

Kondisi itu membuat akses warga selama bertahun-tahun tidak senyaman ketika jembatan utama masih berfungsi. (fid/jif)

Editor : Ainul Hafidz
doa Kudubanjar warga Desa jembatan