Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Nyepi di Jombang, Pawai Ogoh-Ogoh di Desa Wonomerto Wonosalam Jadi Simbol Kerukunan

Dwi Aris Supriyanto • Selasa, 31 Maret 2026 | 10:17 WIB

 

LANCAR: Jajaran Forkopimcam Wonosalam, Kepala Desa setempat dan tamu undangan sesaat sebelum memberangkatkan pawai ogoh-ogoh, Rabu (18/3). (Dwi Aris/Radar Jombang)
LANCAR: Jajaran Forkopimcam Wonosalam, Kepala Desa setempat dan tamu undangan sesaat sebelum memberangkatkan pawai ogoh-ogoh, Rabu (18/3). (Dwi Aris/Radar Jombang)

JombangBanget.id - Kerukunan antarumat beragama di lereng Gunung Anjasmoro, Jombang kembali terpotret nyata. Rabu (18/3), jajaran Forkopimcam Wonosalam bersama Pemerintah Desa Wonomerto memberangkatkan pawai ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947.

Berpusat di Dusun Ganten, Desa Wonomerto, kegiatan ini menjadi simbol kuat sinergitas lintas sektoral.

Perayaan ini melibatkan kolaborasi tiga desa sekaligus, yakni Pemdes Wonomerto, Galengdowo, dan Jarak, dengan dukungan penuh dari aparat kecamatan.

Baca Juga: Pameran Foto Ludruk dan Wayang Topeng Jatiduwur di Jombang Bikin Gen Z Terkesima

Kepala Desa Wonomerto Siswoyo menuturkan, momentum tahun ini terasa lebih spesial karena bersinggungan dengan kalender Islam.

”Hal ini dikarenakan perayaan Nyepi tahun ini dilaksanakan saat bulan suci Ramadan beberapa hari menjelang Idul Fitri,” tuturnya.

Meski warga mayoritas sedang menjalankan ibadah puasa, antusiasme menjaga kerukunan tetap terjaga.

Warga muslim setempat tetap mengapresiasi dan menghormati prosesi umat Hindu, menciptakan harmoni yang natural di tengah masyarakat.

Baca Juga: Pemkab Jombang Paparkan RLPPD 2025, Simak Data Lengkapnya

Bagi umat Hindu, Nyepi merupakan momen sakral untuk pembersihan diri dan refleksi terhadap alam semesta.

Sebelum puncak penyepian, dilakukan upacara Tawur Agung Kesanga yang disertai pawai ogoh-ogoh.

Secara filosofis, ogoh-ogoh yang diambil dari bahasa Bali ogah-ogah (digoyang-goyangkan) merupakan representasi Bhuta Kala.

Sosok ini melambangkan kekuatan alam dan waktu yang tak terbatas, sekaligus simbol unsur negatif dan sifat buruk manusia.

Di akhir prosesi, patung-patung ini dibakar sebagai simbolisasi pemusnahan energi negatif dan kekacauan di lingkungan sekitar.

Siswoyo bersyukur seluruh tahapan ritual berjalan tanpa kendala.

”Alhamdulillah seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan sukses berkat dukungan seluruh warga masyarakat dan seluruh pihak yang terlibat dalam kepanitiaan,” pungkasnya. (dwi/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#pawai ogoh-ogoh #ogoh-ogoh #Pemdes #kerukunan #Desa #Desa Kita #Wonosalam #wonomerto #Jombang #nyepi