Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Pemdes Kromong Jombang Aktif Melestarikan Tradisi Sedekah Bumi, Ada Wayang Kulit Semalam Suntuk hingga Menabuh Gong

Dwi Aris Supriyanto • Senin, 29 April 2024 | 16:15 WIB
GUYUB: Kepala Desa Kromong Hermawan bersama Camat Ngusikan Ahmad Fahruddin Fauzi bersama warga saat acara sedekah bumi  di Balai Dusun Banyuasin.
GUYUB: Kepala Desa Kromong Hermawan bersama Camat Ngusikan Ahmad Fahruddin Fauzi bersama warga saat acara sedekah bumi di Balai Dusun Banyuasin.

JombangBanget.id – Desa Kromong, Kecamatan Ngusikan, Jombang tiap tahun rutin melaksanakan kegiatan sedekah bumi.

Tradisi leluhur yang dilaksanakan setelah masa panen sudah berjalan secara turun-temurun.

Dari empat dusun, yakni Dusun Kromong, Dusun Banyuasin, Dusun Gondang serta Dusun Pudaksili yang memiliki cerita tersendiri terkait sedekah bumi adalah sedekah dusun di Dusun Banyuasin.

Dusun terpecil di tengah kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan Desa Selorejo, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan dan Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto tersebut menggelar ritual sedekah dusun yang dipusatkan di Punden Sendang Palon.

Lokasi punden merupakan sumur tempat warga sekitar mengambil air untuk kebutuhan air minum sejak zaman dulu.

”Hal ini konon karena air di lokasi tersebut merupakan air tawar dan tidak mengandung kapur seperti di lokasi sumber mata air lain,” terang Hermawan, kepala Desa Kromong.

Lokasi sumur sumber mata air tawar terletak di perbatasan pemukiman penduduk dan kawasan hutan yang diapit dua sungai serta ditumbuhi pohon jambu besar tersebut memiliki sejarah unik terkait asal mula kemunculannya.

Pemerintah Desa (Pemdes) Kromong turut berperan serta memberi perhatian khusus dalam acara sedekah bumi di Dusun Banyuasin.

”Pihak Pemdes berkolaborasi bersama warga menggelar acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk serta karawitan dan campursari setelah nuthuk gong atau menabuh gong setelah ritual awal di lokasi Sendang Palon saat sedekah bumi,” kata Hermawan.

Ditegaskannya, sedekah bumi menjadi wujud sinergitas pemdes dan masyarakat desa khususnya Dusun Banyuasin dalam melestarikan budaya dan kearifan lokal di era modern saat ini.

Tasir, juru kunci punden mengatakan, lokasi sumur merupakan punden Mbah Selorejo utusan dari Kerajaan Majapahit yang membawa pusaka berupa gaman atau sejenis pisau besar.

Baca Juga: Pemdes Sukoiber Jombang Percantik Lapangan Desa, Pasang Paving, Segera Bangun Taman

”Beliau diutus ke Banyuasin untuk menolong warga yang kesulitan mendapatkan air minum, pusaka yang dibawanya lantas ditancapkan di lokasi Sendang Palon yang menjadi sumber mata air tawar dan dimanfaatkan warga hingga saat ini,” terangnya.

Warga sekitar juga mempercayai khasiat air dari sumur tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Masyarakat juga kerap meletakkan cokbakal atau semacam sesajen di lokasi Punden Sendang Palon saat memiliki hajat. (dwi/naz/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#bumi #KITA #Pemdes #gong #Desa #wayang kulit #Jombang #kromong #Ngusikan #sedakah