Harga Cengkeh Naik di Wonosalam Jombang, Panen Petani Malah Anjlok

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 06:31 WIB
DIPETIK: Endon Siswoyo, petani cengkeh asal Desa Galengdowo Kecamatan Wonosalam, Jombang saat memetik cengkeh di kebunnya. (Anggi Fridianto/Radar Jombang)
DIPETIK: Endon Siswoyo, petani cengkeh asal Desa Galengdowo Kecamatan Wonosalam, Jombang saat memetik cengkeh di kebunnya. (Anggi Fridianto/Radar Jombang)

JombangBanget.id - Harga cengkeh basah di Wonosalam, Jombang naik menjadi sekitar Rp 39 ribu per kilogram pada musim panen tahun ini, namun produksi petani justru anjlok.

Endon Siswoyo, petani di Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Jombang mengatakan hasil panennya hanya sekitar 1-2 kuintal, jauh di bawah musim sebelumnya yang mencapai 6-7 kuintal.

Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di sekitar Rp 33 ribu per kilogram.

Baca Juga: Binrohtal: Sifat Manusiawi Nabi Muhammad, Kunci agar Mudah Diteladani

”Alhamdulillah, harga memang naik. Kalau cengkeh jarang berbuah, harga pasti naik. Tapi kalau panen raya, harga pasti turun. Itu sudah hal biasa bagi saya,” katanya.

Bagi petani, fluktuasi harga tersebut memang sudah menjadi bagian dari siklus komoditas cengkeh.

Ketika pasokan berkurang karena produksi rendah, harga cenderung naik.

Sebaliknya, saat tanaman berbuah lebat dan terjadi panen raya, harga biasanya kembali terkoreksi.

Baca Juga: Student Journalism: Memahami Kebebasan Wanita

Musim panen cengkeh di kawasan Wonosalam sendiri umumnya berlangsung mulai akhir Juli hingga awal September.

Waktu panen dapat berbeda-beda bergantung pada kondisi geografis lahan.

Tanaman yang berada di wilayah lebih rendah biasanya memasuki masa panen lebih awal dibandingkan tanaman di kawasan yang lebih tinggi.

Sementara itu, di tengah melambungnya harga jual, produksi cengkeh di lahannya justru mengalami penurunan cukup signifikan.

Jika pada musim sebelumnya hasil panen bisa mencapai 6-7 kuintal saat seluruh pohon berbuah, tahun ini produksinya hanya sekitar 1-2 kuintal.

”Panen tahun ini menurun drastis jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kalau berbuah semua bisa menghasilkan 6-7 kuintal. Tahun ini hanya sekitar 1-2 kuintal,” ujarnya.

Baca Juga: Kades Jadi Raja Majapahit, Pesan Budaya Muncul di GFC 2026

Endon mengelola lahan sekitar 4.500 meter persegi atau hampir setengah hektare. Di lahan tersebut terdapat sekitar 40 pohon cengkeh.

Dari seluruh pohon itu, tahun ini dia hanya mendapatkan sekitar 2 kuintal cengkeh.

Menurutnya, produktivitas setiap pohon memang tidak sama.

Banyak faktor yang memengaruhi, mulai kondisi tanaman, kesuburan tanah, hingga usia pohon.

Baca Juga: Steel Sheet Mulai Dipancang, Begini Progres Proyek Bendung Jatimlerek Jombang

Pohon yang masih sehat dan produktif dapat menghasilkan puluhan kilogram cengkeh dalam sekali musim panen.

”Kalau umur pohon di atas 35 tahun dan masih subur, bisa menghasilkan 60 kilogram lebih dalam satu pohon,” jelasnya.

Cengkeh yang ditanam Endon terdiri dari jenis Zanzibar dan cengkeh merah. Namun, persoalan produktivitas tidak hanya ditentukan oleh jenis tanaman.

Kondisi cuaca yang tidak menentu turut menjadi salah satu faktor yang paling dirasakan petani tahun ini.  (ang/naz)

Editor : Ainul Hafidz
Wonosalam Jombang cengkeh harga Petani