JombangBanget.id - Potensi susu sapi segar dari lereng Gunung Anjasmoro, Jombang kian berkembang.
Selain jumlah peternak yang kian bertambah, harga jual susu sapi juga mengalami kenaikan.
Jika sebelumnya susu sapi segar dibeli pabrik dengan harga sekitar Rp 7.400 per liter, kini naik menjadi Rp 7.600 per liter.
Kenaikan tersebut langsung dirasakan para peternak yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari hasil perahan sapi.
Baca Juga: DPRD Jombang dan PMII Bahas Transparansi APBD, Soroti Partisipasi Publik
Kepala Desa Galengdowo Wartomo mengatakan, informasi kenaikan harga berasal dari pabrik pengolahan susu yang menjadi mitra peternak.
Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga adalah meningkatnya kebutuhan susu.
’’Kemarin informasi dari pabrik karena ada program MBG, harga dari pabrik naik. Otomatis kami juga menaikkan harga susu di tingkat peternak,’’ ujarnya.
Menurut Wartomo, kenaikan harga tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat Galengdowo maupun desa lain yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor peternakan sapi perah.
’’Alhamdulillah, kenaikan ini sangat mendukung peternak di wilayah kami,’’ katanya.
Desa Galengdowo memang dikenal sebagai salah satu sentra sapi perah terbesar di Kabupaten Jombang, khususunya Wonosalam.
Berdasarkan data pemerintah desa, terdapat sekitar 1.200 peternak aktif dengan populasi sapi mencapai kurang lebih 3.000 ekor.
Setiap hari, ribuan liter susu segar diproduksi dari kandang-kandang warga yang tersebar di berbagai dusun. Hasilnya kemudian disetor ke pabrik melalui jalur kemitraan yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Meski kenaikan harga hanya Rp 200 per liter, dampaknya cukup terasa bagi peternak. Terutama bagi mereka yang memiliki jumlah sapi produktif lebih banyak.
Baca Juga: Binrohtal: Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Saatnya Muhasabah dan Memperbanyak Tobat
Wartomo menyebut, rata-rata pendapatan peternak kini meningkat antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap periode pembayaran. Besarnya tambahan penghasilan bergantung pada volume susu yang disetorkan.
’’Kenaikan pendapatan sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Tergantung jumlah susu yang disetorkan masing-masing peternak,’’ jelasnya.
Sistem pembayaran hasil susu di Galengdowo dilakukan setiap 10 hari sekali. Karena itu, perubahan harga relatif cepat dirasakan oleh peternak.
”Bagi masyarakat Galengdowo, susu bukan sekadar komoditas. Sebab ada ribuan keluarga menggantungkan masa depan mereka,’’ pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz