Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kerajinan Kayu Ukir dari Jombang, Limbah Kayu Gmelina Disulap Jadi Karya Seni

Achmad RW • Senin, 5 Januari 2026 | 11:07 WIB

 

Cokro Retantoko, warga Dusun Kembeng, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Jombang dengan karyanya.
Cokro Retantoko, warga Dusun Kembeng, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Jombang dengan karyanya.

JombangBanget.id – Limbah kayu yang kerap berakhir sebagai sampah atau kayu bakar justru menjadi media karya seni bernilai tinggi di tangan Cokro Retantoko, 32.

Pemuda asal Dusun Kembeng, Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Jombang itu berhasil menyulap potongan kayu tak terpakai menjadi lukisan dan ukiran artistik yang kini diminati banyak orang.

Usaha yang diberi nama Omah Rayap tersebut telah dirintis sejak 2014.

Berawal dari kegemaran menggambar, Cokro tak pernah menyangka hobinya bisa berkembang menjadi usaha kreatif yang menopang ekonomi keluarga.

”Saya dulu suka menggambar, jadi iseng-iseng mengembangkan hobi,” ujarnya saat ditemui di bengkel kerjanya.

Perjalanan kreatifnya dimulai dari keberanian mencoba media yang berbeda.

Dari kanvas beralih ke kayu, hingga akhirnya ia menemukan kenyamanan baru, menggambar dan melukis di atas permukaan kayu.

Cokro kemudian memilih kayu gmelina sebagai bahan utama.

Selain mudah didapat dari limbah industri, kayu ini memiliki serat halus dan struktur yang stabil sehingga cocok untuk karya seni detail.

Setiap karya melalui proses yang panjang. Dimulai dari pemilihan kayu, pengamplasan agar permukaan rata, pembuatan sketsa, hingga pendetailan yang menuntut ketelatenan tinggi.

”Saat ini tingkat kesulitan paling tinggi di pendetailan wajah,” tuturnya.

Tahap akhir adalah finishing dengan lapisan clear agar hasil karya tampak rapi, mengilap, dan lebih awet.

Dari satu bidang kayu, Cokro bisa menghasilkan beragam karya, mulai lukis kayu, lukis wajah, ukir foto, hingga karya berukuran besar yang memerlukan ketelitian ekstra.

Soal harga, karyanya dibanderol beragam. Lukis kayu ukuran kecil dipatok mulai Rp 140 ribu.

Untuk ukuran menengah hingga besar berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1,2 juta.

Sementara karya dengan tingkat kerumitan tinggi, seperti ukir foto berukuran 1 meter x 1,5 meter, harganya bisa mencapai Rp 7,5 juta.

Dalam sehari, untuk ukuran kecil, ia mampu merampungkan hingga tiga karya.

Kini, hampir seluruh proses dikerjakan di bengkel kecil di samping rumahnya. Dari ruang sederhana itu, kreativitas terus tumbuh.

Tak hanya lukisan dan ukiran kayu, Omah Rayap juga memproduksi backdrop, buket kayu, seserahan pernikahan, kotak cincin, hingga mahar.

”Bisa dibilang ini hobi awalnya yang kini jadi cuan,” pungkasnya. (riz/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Kepuhkembeng #UMKM #Ukir Kayu #kerajinan ukir #Kayu Gmelina #kayu ukir #Jombang #Limbah Kayu #Kerajinan #Peterongan