Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Diterjang Gempuran Marketplace, Pasar Senggol Bhayangkara Jombang Makin Meredup

Ainul Hafidz • Jumat, 5 Desember 2025 | 23:31 WIB
MULAI REDUP: Pedagang Pasar Senggol Bhayangkara di Jl Melati, Jombang tengah duduk menunggu pembeli.
MULAI REDUP: Pedagang Pasar Senggol Bhayangkara di Jl Melati, Jombang tengah duduk menunggu pembeli.

JombangBanget.id – Denyut Pasar Senggol Bhayangkara yang berada di RT 10 RW 3 Dusun Sambong Duran, Desa/Kecamatan Jombang semakin meredup.

Gang kecil Jalan Melati yang dulu padat pembeli kini makin lengang. Dari 92 bedak yang ada, hanya sekitar 56–70 pedagang yang masih bertahan berjualan. Salah satunya gempuran pasar online.

Muhammad Faisal, pedagang sekaligus sekretaris Paguyuban Pedagang Pasar Senggol , mengakui kondisi semakin berat. Omzet pedagang terus turun dari tahun ke tahun.

Menurut dia, pasar online menjadi salah satu pemicu anjloknya penjualan di pasar senggol.

”Kalau kaos dan celana kita kalah di online. Cuma kelemahan online itu pembeli tidak bisa melihat langsung barangnya. Tapi di offline seperti ini pembeli bisa tahu barangnya bagaimana,” terang Faisal, Kamis (4/12).

Faisal menyebut fenomena ini bukan hanya terjadi di Jombang.

”Di grosir Kapasan Surabaya juga hampir sama. Banyak yang terdampak,” katanya.

Sementara, mayoritas pedagang Pasar Senggol belum mampu bersaing di marketplace.

”Jualan online butuh stok banyak dan harus rajin update. Sedangkan di sini kebanyakan pedagang hanya jual eceran,” imbuhnya.

Kondisi tersebut dibenarkan Ahmad Fadlan, pedagang sekaligus pengurus paguyuban lainnya.

Dia menyebut penurunan omzet mencapai hampir 50 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pasar Perak Gagal Jadi Smart Economy, Pemkab Jombang Rampungkan Penataan Kios Mangkrak

”Dulu menjelang Lebaran omzet bisa tembus Rp 5 juta. Sekarang dapat Rp 1 juta saja susah,” ucapnya.

Meski omzet penjualan dari tahun ke tahun turun, Faisol bertekad tetap bertahan.

Beruntungnya, pada momen-momen tertentu lapaknya tetap ramai didatangi pembeli.

”Di sini sekarang hanya bisa mengandalkan momen musiman seperti karnaval, anak sekolah pakai baju adat, tahun ajaran baru, atau menjelang Lebaran. Alhamdulillah dibantu momen itu kami masih bisa bertahan,” kata Fadlan.

Barang yang masih lumayan diminati adalah sepatu dan sandal.

Sementara sejumlah pedagang pakaian memilih menyerah. Selain dampak gempuran pasar online, sebagian ada yang kesulitan modal, faktor usia dan tidak ada penerus.

”Dari total sekitar 92 kios, yang tiap hari aktif berjualan hanya sekitar 70 pedagang,” terangnya.

Di tengah kondisi lesu, para pedagang berharap ada perhatian pemerintah.

”Harapan kami bertahan, bisa ramai lagi. Ke depan Pasar Senggol ini bisa menjadi ikon Jombang, pasar murahnya Jombang, seperti Malioboronya Yogyakarta. Pemerintah bisa memfasilitasi dengan menata kembali kompleks pasar ini, apalagi sekarang sudah ramai di belakang ada pedagang sayur, buah, dan makanan sampai malam,” tutur Fadlan. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Disdagrin Jombang #Pemkab Jombang #pasar senggol #sepi #bhayangkara #marketplace #pakaian #Surabaya #online #kaos #Jombang #pasar #pasar kapasan #Pasar Kapasan Surabaya #Pasar bhayangkara #pasar legi