JombangBanget.id - Setelah usaha budi daya packoy stabil, Rokhim Azzam tak berhenti di situ.
Ia mulai berpikir untuk memperluas jaringan dan berbagi ilmu dengan warga sekitar.
Dari situ lahirlah kemitraan kecil yang kini berkembang menjadi 20 titik kebun hidroponik di Jombang.
”Banyak yang awalnya cuma bantu-bantu, lama-lama tertarik buka sendiri. Saya bantu instalasi dan bibitnya,” kata Azzam, warga Desa Plosogeneng, Kecamatan Jombang ini.
Sistem kemitraan ini sederhana tapi efektif.
Mitra diberi pelatihan singkat dan panduan teknis, lalu hasil panen mereka diserap langsung oleh jaringan pemasok yang sudah dimiliki Azzam.
Dengan begitu, para petani baru tidak perlu pusing mencari pembeli.
”Saya bantu pasarnya dulu, biar mereka fokus di produksi. Kalau sudah stabil, baru mereka bisa jalan sendiri,” ujarnya.
Azzam juga terus berinovasi pada sistem tanamnya.
Salah satu yang unik, ia menyesuaikan pola semai dan aliran air berdasarkan karakter tanaman, bukan jadwal tetap.
Menurutnya, pendekatan fleksibel itu membuat tanaman tumbuh lebih seragam.
Baca Juga: Petani Jombang Semringah, Harga Cabai Rawit Bertahan Segini per Kilogramnya
”Enggak bisa semua tanaman diperlakukan sama. Ada yang butuh aliran deras, ada yang lebih suka lembab. Itu harus dirasakan,” ucapnya sambil memeriksa tandon nutrisi.
Kebiasaan observatif inilah yang membedakannya dari petani hidroponik kebanyakan.
Ia tak sekadar meniru sistem, tapi menyesuaikannya dengan kondisi lokal dan kebiasaan kerja sehari-hari.
Kini, Azzam tak hanya dikenal sebagai pemasok sayur segar, tapi juga pembimbing bagi petani muda yang ingin memulai.
Banyak yang datang untuk belajar langsung ke kebunnya, dan ia selalu menyambut dengan tangan terbuka.
”Kalau bisa, jangan sendirian. Usaha seperti ini lebih enak kalau bareng-bareng,” katanya. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz