JombangBanget.id - Meski metode pembuatan telur asin ala Agus Suprriyono, 33, relatif memakan waktu lebih lama, Agus mengaku tetap akan mempertahankan resep warisan dari Indramayu, tanah kelahirannya tersebut.
Sebab, ia meyakini produk yang dihasilkan lebih berkualitas.
”Untuk pengasinan telur sebenarnya ada banyak cara, tapi saya tetap pertahankan resep warisan ini (serbuk batu bata merah dan garam),” ungkapnya.
Beberapa metode pengasinan telur bisa dengan merendam telur dengan air garam. Ada yang dicolet garam dan tanah dan dari segi waktu lebih cepat.
”Tapi saya tetap pilih cara lama, pakai batu bata dan garam, karena terbukti lebih enak,” lontarnya.
Agus menyebut tak sembarangan menggunakan garam untuk campuran bata halus itu. Garam yang dipakainya adalah garam beryodium.
”Kalau pakai garam grosok, itu kurang gurih hasilnya, beda sama garam halus beryodium begini,” ungkapnya.
Dengan cara tradisional itu, Agus mengaku produksinya memang akan lebih memakan waktu. Proses pengasinan, bisa sampai 10 hari.
”Tapi hasilnya lebih bagus, telurnya jadi lebih masir istilahnya, dimakan juga lebih enak,” tambah bapak dua anak ini.
Selain itu, hasil telur yang diasinkan juga lebih awet.
Ya, dengan metode pengasinan yang ia piliha, telur yang sudah diasinkan disebutnya bisa bertahan hingga 14 hari lebih tanpa pengawet sambil menunggu direbus.
Baca Juga: Miliki Rasa yang Khas, Telur Puyuh Asin Asap di Jombang Diminati, Begini Proses Pembuatannya
”Kualitasnya lebih awet, jadi lebih banyak untungnya kalau pakai cara tradisional begini,” pungkasnya. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz