JombangBanget.id - Selain dikenal memiliki panorama alam yang indah, Kecamatan Wonosalam, Jombang juga memiliki aneka produk kerajinan unik.
Salah satunya kerajinan pembuatan aneka aksesori atau perhiasan berbahan logam yang digeluti Eko Cahyono 48, perajin logam asal Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, Jombang.
Ia memproduksi beragam produk kerajinan, mulai kalung, cincing, gelang hingga pernak-pernik hiasan rumah.
”Saya mulai menggeluti kerajinan logam sejak 1992,” terang Eko.
Seiring berjalannya waktu, usahanya semakin berkembang. Pada tahun 2012, ia merintis usaha di rumah.
Berbekal peralatan dan pengalaman yang dimiliki, Eko pun berhasil membuat aneka produk kerajinan berbahan logam.
Beberapa macam produk buatannya, mulai dari kalung, cincing, gelang, aksesori hingga pernak-pernik hiasan rumah.
”Beberapa kerajinan dan aksesoris ini pesanan konsumen,” ujar dia.
Eko mengungkapkan, dalam membuat kerajinan, ia terlebih dulu memesan bahan baku dari penyedia logam dari luar kota.
Bahan baku itu kemudian diolahnya dengan alat-alat yang dimiliki. Eko mampu menyelesaikan produk kerajinan tergantung tingkat kerumitan.
Bisa selesai dalam sehari hingga seminggu.
Baca Juga: DPRD Jombang Dorong APH Turun Tangan, Usut Dugaan Pungli Program PTSL di Wonosalam
”Untuk penyelesaian tergantung kerumitan,” jelas dia.
Untuk harga sendiri, Eko membanderol aksesori sesuai tingkat kerumitan dan bahan yang digunakan.
Misalnya untuk cincin berbahan emas tentu beda harga dengan bahan perak.
Namun, untuk penentuan harga ia menggunakan hitungan per gram.
Misalnya, untuk perak, harganya mulai Rp 35.000 – Rp 40.000 per gram, sudah termasuk ongkos pembuatan.
Sementara produk berbahan kuningan lebih murah, ada yang hanya Rp 10.000 – Rp 15.000 per item.
”Per gramnya kalau perak saya taruh harga Rp 35.000 sampai Rp 40.000, itu sudah termasuk material dan ongkos pembuatannya, sedangkan kuningan lebih murah per item ada yang harganya hanya Rp 10.000, Rp 15.000 seperti anting-anting,” pungkasnya.
Harga Bahan Baku Tak Menentu
Usaha pembuatan kerajinan berbahan logam yang digeluti Eko Cahyono, 48, tak selalu berjalan mulus.
Salah satu tantangannya harga bahan baku juga akses pasar.
”Memang sangat berpengaruh dengan kondisi pasar global saat ini. Ditambah dengan kondisi perekonomian masyarakat yang lesu, sehingga mereka sangat minim untuk membeli aksesori-aksesori,” ujarnya.
Menurut Eko, harga perak yang sebelumnya hanya Rp 8.000 per gram kini melonjak menjadi Rp 21.000.
Sementara, harga emas yang awalnya berkisar Rp 750.000 hingga Rp 800.000, saat ini sudah menembus Rp 1.800.000.
Untuk perak kuningan, harganya berkisar Rp 120.000 hingga Rp 145.000.
”Kenaikan harga memang sangat berpengaruh bagi pelaku UMKM kecil seperti saya ini," jelasnya memerinci.
Eko mengungkapkan, dalam sebulan jumlah pesanan tidak menentu.
Dalam seminggu ia terkadang hanya bisa menerima 4 sampai 5 pesanan cincin, liontin, atau aksesori lain.
”Saya tidak bisa memastikan tergantung pemesanan yang ada. Saat ini dalam satu Minggu terkadang ada 5 pesanan cincin, liontin, atau aksesori lainnya. Memang menurut saya saat ini perajin seperti saya ini sedang mengalami lesu pemesanan,” tambahnya.
Kendati demikian, Eko tetap berusaha bertahan dengan berbagai strategi. Salah satunya dengan memperluas pasar ke luar daerah.
”Ya harus memperluas pasar ke daerah lain, seperti di Kediri, Solo, atau ke Bali," pungkansya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz