JombangBanget.id – Pabrik Gula (PG) Djombang Baru yang terletak di Jl Panglima Sudirman Jombang, baru saja memulai musim giling 2024.
Seremoni acara selamatan yang menandai pembukaan giling tahun ini, telah dilakukan pada Jumat (24/5) lalu.
Tradisi selamatan untuk menandai awal giling, sudah menjadi ritual wajib sejak awal pendirian pabrik gula di Jombang pada era kolonial Belanda.
Pabrik gula pertama di wilayah afdeling Jombang ini telah berdiri sekitar 1834 dengan nama Suikerfabriek (SF) Djombang.
Pada masa kolonial Belanda, pabrik gula ini bernama suikerfabriek (SF).
Pabrik pertama yang dibangun di Jombang adalah SF Djombang (pasca Indonesia merdeka berubah nama menjadi PG Djombang Baru).
SF Djombang dirintis sejak tahun 1834. Masa pembangunannya selama dua tahun, setelah itu mulai beroperasi pada 1836.
Sebagai pabrik gula pertama di Jombang, keberadaannya langsung mengubah kondisi masyarakat secara umum.
Apalagi dalam beberapa tahun kemudian, disusul dengan pembangunan belasan pabrik gula lainnya.
Sedikit demi sedikit di berbagai wilayah berdiri SF sampai mencapai jumlah 13 SF.
“Saya dapatkan catatan-catatan penting di surat kabar masa kolonial tentang tradisi buka giling pabrik gula di Jombang,” kata salah satu peneliti sejarah pabrik gula, Dimas Bagus Aditya yang juga alumni jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unair Surabaya ini.
Misalnya tradisi akad nikah tebu manten dengan prosesi seperti laiknya orang ngunduh mantu.
Sepasang tebu manten memang tebu pilihan dengan kualitas terbaik.
Pasca Indonesia merdeka, tradisi selamatan untuk menandai musim giling tebu mengalami modifikasi.
Ada bagian yang tetap dipertahankan, dan ada pula yang sudah diubah demi penyesuaian jaman.
Seperti acara nanggap tayuban (tarian tayub), ketoprak atau ludruk kemudian diganti dengan panggung hiburan musik dan lainnya.
Ada juga pasar malam sebagai hiburan untuk warga yang mau datang melihat keramaian di area pabrik gula.
Sementara itu, penelusur sejarah Jombang lainnya, Moch. Faisol juga menemukan beberapa artikel di koran yang memberitakan perubahan nama di SF Djombang hingga menjadi PG Djombang Baru.
“Ini diawali dengan proses penawaran penjualan pabrik pada 1952 agar terhindar dari kebangkrutan,” katanya.
Seperti bisa dijumpai pada pemberitaan surat kabar tanggal 4 Maret 1952: Pabrik Gula Dijual: Pabrik Gula Djombang yang terletak di dekat Djombang, Jawa Timur, dijual baik seluruh benda maupun bagiannya.
Instalasi yang bekerja dengan proses sulfitasi ganda ini berkapasitas kurang lebih 14.000 kuintal rit per hari.
Sebelum perang, produksi gula tahunan mencapai 12.000 hingga 14.000 ton gula putih.
Pabrik hampir siap untuk penggilingan dan dilengkapi dengan laboratorium barang-barang untuk bahan dan gula, gedung perkantoran, sejumlah besar rumah yang dipugar untuk staf, rel kereta api yang diperbaiki dan longgar, lokomotif, truk, dll. Penawar yang serius dapat memperoleh informasi tentang pemasangan atau bagian-bagiannya dari pengelola pabrik.
Alamat surat Djombang, Jawa Timur.
Tawaran untuk pembelian perusahaan loko harus diserahkan kepada perwakilan pemilik, C.V. WALLER & PLATE, Kantor Gunung Sahari 86, Postfrommel 123 Djakarta; telp. Gbr. 2272.
Selanjutnya pemilik lama Moorman and Co. bersama pemerintah dalam hal ini Jawatan Perkebunan, menjalankan rehabilitasi SF Djombang yang dikelola oleh perusahaan baru berbadan hukum berbentuk NV (Naamloze Vennootschap).
Seperti diberitakan koran pada 1954: Perusahaan gula Djombang akan siap beroperasi untuk musim giling tahun 1955, demikian informasi PI-Aneta dari sumber resmi di Jakarta.
Kapasitas pabrik tersebut nantinya akan menjadi 12.000 kuintal tebu per hari. Biaya pekerjaan perbaikan kurang lebih Rp 3 juta rupiah.
Perusahaan untuk eksploitasi perusahaan perkebunan Moorman and Co.
Sebagian besar perusahaan memulihkan Djombang dari sumber dayanya sendiri, namun tidak mampu membayar jumlah yang hilang sebesar Rp 3 juta.
Kini perusahaan tersebut sedang melakukan restorasi bekerja sama dengan pemerintah.
Yang untuk itu sedang didirikan N.V. baru bernama N.V. Djombang Baru, di mana Moorman and Co. ikut berpartisipasi. Yang menjadikan pabrik gula Djombang beroperasi dengan inventaris yang lengkap, gudang perbekalan dan alat angkut sesuai situasi per 1 Januari 1954.
Selanjutnya ikut serta yayasan di bawah naungan Djawatan Perkebunan (kantor pusat perusahaan pertanian) yang menyediakan dana pemulihan sebesar Rp 3 juta.
Bagi Moorman and Co. jaminan telah diberikan bahwa bagian dari wilayah saat ini bisa ditanami tembakau. Juga di masa depan akan dicadangkan untuk tembakau.
Titik balik penyelamatan pabrik gula pertama di Jombang ini bisa dilaksanakan sejak musim giling tahun 1955.
Setelah berubah kepemilikan dan nama menjadi PG Djombang Baru pada sembilan bulan sebelumnya, musim pertama era kebangkitan pun dimulai.
Koran De Locomotief edisi Sabtu, 4 Juni 1955 memberitakan: Konstruksi dimulai 9 bulan yang lalu. Pabrik Gula Djombang Baru meluncurkan musim penggilingan.
Pabrik Gula Djombang Baru di Djombang, milik N.V. Perusahaan Perkebunan Djombang Baru, perusahaan campuran yayasan pemerintah bernama Jajasan Tebu Rakjat (Jatra) dan N.V. Cultuur Mij Noorman & Co, mengadakan pesta buka giling pada hari Selasa lalu.
Pembangunan pabrik gula ini memakan waktu kurang lebih 9 bulan.
Sekitar 80% nya dilakukan oleh tenaga ahli Indonesia.
Biaya yang dikeluarkan berjumlah total Rp 4.500.000,- Masih diperlukan dana sekitar 10 juta rupiah untuk operasionalnya.
Tahun ini pabrik yang dibangun akan mencakup kurang lebih 1.000 hektare.
Meliputi penggilingan buluh, terdiri dari 400 hektare yang disebut pabrik tebu dan 600 hektare tebu penduduk.
Dengan diresmikannya Pabrik Gula Djombang Baru, kini terdapat 33 pabrik gula yang beroperasi di Jawa Timur dari 51 pabrik gula yang ada di seluruh Pulau Jawa.
Sedangkan produksi beras Jawa Timur kurang lebih 50% dari total produksi beras seluruh Indonesia.
Baca Juga: Menelusuri Terbentuknya Regentschap Djombang (1), Dulunya Afdeling, Miliki 3 Distrik
Produksi tebu provinsi ini kurang lebih 2/3 dari total produksi tebu seluruh tanah air, menurut Gubernur Samadikoen.
Kapasitas pabrik gula Djombang Baru saat ini sekitar 10.000 sampai 12.000 kuintal rit per musim.
Lebih lanjut disebutkan bahwa dengan rendemen 11%, Djombang Baru dapat menghasilkan kurang lebih 110.000 kuintal gula per musim.
Pada musim depan, pabrik berharap bisa menggiling tebu seluas 1.400 hektare, kalau bisa hanya tebu populasi.
Dengan dibukanya kembali pabrik gula Djombang Baru, kini terdapat 8 pabrik gula yang beroperasi di karesidenan Surabaya.
“Sejak 1 Januari 1961, PG Djombang Baru bersama tujuh pabrik gula lain dan satu pabrik karung goni, masuk dalam pengelolaan Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Kesatuan V Djawa Timur,” kata Dimas Bagus.
Hingga sekarang, hampir 70 tahun kemudian, PG Djombang Baru bersama PG Tjoekir tetap eksis.
Keduanya menjadi dua pabrik gula yang tersisa dari 13 PG sebelumnya, yang masih mampu berproduksi di wilayah kabupaten Jombang. (ang/fid)
Editor : Ainul Hafidz