Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Berburu Kemiri di Hutan Wonosalam Jombang, Harga Jual Tinggi, Biasanya Jadi Bahan Baku Minyak

Anggi Fridianto • Kamis, 28 Maret 2024 | 15:15 WIB
DIPECAH: Tria Yunita, 40 warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan Kecamatan Wonosalam memecah kemiri dengan alat tradisional.
DIPECAH: Tria Yunita, 40 warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan Kecamatan Wonosalam memecah kemiri dengan alat tradisional.

JombangBanget.id - Selain dikenal sebagai surganya pecinta durian, Kecamatan Wonosalam, Jombang juga kaya akan potensi alam lainnya.

Salah satunya, tumbuhan kemiri yang tumbuh subur di hutan Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Jombang.

Bertahun-tahun, kemiri menjadi salah satu komoditas pertanian andalan masyarakat.

Kemiri tumbuh produktif di hutan Dusun Mendiro, Desa Panglungan.

Setiap pagi, warga setempat banyak yang masuk ke hutan belantara untuk berburu biji kemiri yang jatuh dari pohon.

Pohon kemiri sendiri rata-rata tumbuh di hutan lindung wilayah setempat. Setiap pagi, biji kemiri yang sudah matang akan jatuh dari pohonnya.

”Setiap hari orang-orang ke sini untuk menyetorkan hasil buruan kemiri di hutan,” ujar Tria Yunita, 40, warga Dusun Mendiro.

Ia mengakui, berburu biji kemiri susah-susah gampang.

Sebab, ukurannya yang cenderung kecil membuatnya sulit ditemui di balik semak maupun rerumputan kering.

”Ya harus jeli kalau mencari di hutan,’’ tambahnya.

Tria bersama keluarganya, sudah bertahun-tahun menjadi pengepul kemiri yang didapat warga dari hutan.

Baca Juga: Dua Desa Ini Miliki Umat Hindu Paling Banyak di Wonosalam Jombang, Awalnya Punya Satu Pura Sekarang Jadi Segini

Biji kemiri basah yang didapat dari hutan, kemudian dijemur sampai kering.

Proses penjemuran biasanya membutuhkan waktu sekitar 5-2 minggu tergantung cuaca.

”Kalau hujan-hujanan seperti ini bisa 2 minggu baru kering,’’ jelas dia.

Tanaman dengan nama latin aleurites moluccanus ini, dimanfaatkan bijinya sebagai bahan pembuatan minyak dan rempah-rempah.

Sebagian warga juga memanfaatkan untuk bumbu masak serta campuran sambal pecel.

”Jadi warga ke sini dan menjual Rp 9.000 per 127 biji,’’ papar dia.

Harga jual kemiri di pasaran saat ini cenderung menurun. Dari sebelumnya Rp 50.000 per kg menjadi Rp 35.000 per kg.

”Karena sekarang musim panen, jadi harga agak menurun,’’ pungkasnya. (ang/naz/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#hutan #kemiri #minyak #bahan #Wonosalam #berburu #Jombang #pecel #Wonderland #Panglungan