JombangBanget.id – Selain dikenal potensi wisatanya, Kecamatan Wonosalam, Jombang yang berada di lereng Gunung Anjasmoro juga dikenal sebagai daerah penghasil komoditas pertanian unggul.
Salah satunya buah alpukat. Selain mendapatkan cuan hasil panen buah, sebagian petani juga mengembangkan usaha pembibitan buah alpukat.
Salah satu petani yang sukses mengembangkan usaha pembibitan pohon alpukat adalah Suyitno.
Warga Dusun Sumber, Desa/Kecamatan Wonosalam, Jombang saat ini memiliki ribuan bibit pohon alpukat di kebunnya.
Ia sudah beberapa tahun terakhir membudidayakan beberapa jenis alpukat.
”Ya, di kebun kami ada beberapa varietas alpukat unggulan. Di antaranya cipedak atau miki, aligator, maupun jenis kendil. Namun, yang paling banyak di sini jenis cipedak,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Dijelaskan, masing-masing jenis alpukat memiliki keunggulan.
Misalnya, jenis cipedak memiliki bentuk buah yang cenderung bulat dengan rata-rata berat mencapai 4-6 ons.
Buah alpukat jenis cipedak sangat adaptif di dataran rendah. ”Dagingnya tebal dengan buah warna kuning mentega,’’ terangnya.
Sedangkan, alpukat jenis aligator dikenal dengan ukuran buahnya yang jumbo.
”Jenis aligator juga adaptif di dataran rendah. Bobot buah bisa sampai 8 ons sampai 1,3 kilogram,” terangnya.
Selain cipedak dan aligator, ada juga jenis kendil yang beratnya bisa mencapai 2 kilogram per bijinya.
”Ciri utama dari jenis ini adalah buahnya bulat dan berdaging tebal,’’ jelas dia.
Di kebun Suyitno, sedikitnya ada 2 ribu batang bibit buah alpukat yang dibudidayakan.
Setiap hari, tanaman yang ditempatkan di polybag itu dirawat dan diberi pupuk secara rutin.
”Perawatan mudah, asalkan kita jaga kebutuhan nutrisi tanaman dan kecukupan airnya dapat tumbuh maksimal,’’ tandasnya.
Menurutnya, tak hanya aspek perawatan yang membuat tanaman alpukat tumbuh maksimal.
Namun, pengaruh iklim dan geografis suatu daerah juga berpengaruh.
”Kebetulan iklim di Wonosalam sangat cocok untuk segala jenis tanaman, sehingga dapat tumbuh subur dan maksimal,’’ pungkasnya. (ang/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz