Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Harga Kebutuhan Pokok Melambung, Begini Tips Pengusaha Roti Agar Tak Gulung Tikar

Azmy endiyana Zuhri • Minggu, 3 Desember 2023 | 13:00 WIB

 

TAK MAU RUGI: Pelaku usaha rumahan, roti harus memutar otak ditengah naiknya harga kebutuhan pokok.
TAK MAU RUGI: Pelaku usaha rumahan, roti harus memutar otak ditengah naiknya harga kebutuhan pokok.

JombangBanget.id - Harga kebutuhan pokok yang naik belakangan ini membuat pelaku usaha rumahan seperti roti harus memutar otak.

Untuk menghindari kerugian, mereka menyiasati dengan cara mengubah kemasan kue. Tidak mengurangi takaran atau menaikkan harga.

"Karena adonan roti ini tidak bisa disiasati atau dikurangi. Akan berakibat pada kwalitas dan rasa roti yang dibuat," ujar Adilla Risky Aulia.

Salah seorang pemilik usaha roti asal Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Jombang ini mengatakan, semua bahan utama yang diperlukan saat ini harganya cenderung naik.

Seperti telur, tepung terigu dan gula pasir. Di awal-awal kenaikan harga kebutuhan pangan itu usaha rotinya sempat kelimpungan.

Mau mengurangi takaran juga tidak mungkin karena berpengaruh pada rasa. Begitu juga menaikkan harga jual juga tidak bisa.

Yang paling dirasakan, kenaikan bahan utama gula pasir. Jika sebulan sebelumnya gula pasir masih berkisar di angka Rp 12.800 per kilogram.

Namun, sejak dua pekan terakhir naik menjadi Rp 17.000 per-Kg.

Begitu juga harga telur yang sepekan lalu masih di angka Rp 24.000 per kilogram, kini sudah mencapai Rp 28.000 per kilogram.

"Bahan lain seperti susu dan mentega juga naik," bebernya.

Karena itulah sebagai pengusaha roti tradisional, ia harus memutar otak agar tidak gulung tikar.

Terlebih, sebulan ini pesanan roti di tempatnya merosot tajam. Bahkan tidak ada pesanan sama sekali. Baru di awal bulan ini order pesanan mulai datang. 

Untuk memenuhi kebutuhan produksinya, ia mengubah kemasan kue yang dihasilkan. Dari pemesanan eksklusif, baru ditarif dengan harga premium.

Karena kemasan berlebel toko roti baik plastik maupun kotak.

"Sementara untuk harga ekonomi, hanya diberi kemasan plastik atau kotak polos. Cara ini sangat membantu mengurangi pengeluaran dari biaya cetak kemasan," tegas Adilla.

Meski tak sampai merugi, namun usaha pembuatan rotinya yang mempekerjakan lima orang karyawan setiap hari, sempat mengalami penurunan omzet cukup banyak.

Jika sebelumnya omzet bersih bisa mencapai Rp 7 juta hingga Rp 8 juta.

"Sejak kenaikan harga bahan pokok ini hanya mendapat keuntungan sekitar Rp 4 juta hingga Rp 5 juta saja," pungkasnya. (yan/bin/fid) 

Editor : Ainul Hafidz
#kue #Jombang